Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 16 Januari 2010, kami sekeluarga berangkat ke puncak untuk mengikuti suatu acara. Bersama kami ikut juga Papa mertua yang usianya sudah 72 tahun. Kebetulan ada dua acara yang harus kami ikuti yaitu pagi jam 10 Natal Wanita dan siangnya jam 2 seminar buat Bapak-Bapak. Karena saya salah satu yang ikut ambil bagian dalam pelayanan (sebagai singer), maka kamipun berangkat lebih cepat. Akhirnya kami tiba tepat waktu dan acarapun dimulai.
Menjelang akhir acara Natal wanita tersebut saya melihat dari jauh suami saya memanggil saya dengan muka yang sangat serius. Dengan penuh pertanyaan saya pergi menghampirinya. "Papa sakit", katanya. "Sakit apa?", tanyaku terkejut. "Tidak bisa buang air kecil dan sekarang lagi merintih kesakitan di kamar mandi". "Kalau boleh selesai acara ini kita langsung pulang ya....", begitu cerita suami saya.
Selesai doa penutup saya langsung bergegas menemui papa dan benar dia lagi berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya kami langsung pulang dan tidak bisa mengikuti acara selanjutnya.
Hujan turun dengan deras saat kami dalam perjalanan pulang. Mata kami melihat-lihat ke kiri kanan jalan untuk mencari klinik. Akhirnya ketemu. Papapun turun masih dengan rintihan-rintihan kesakitan. Suamiku menemaninya masuk ke ruang pemeriksaan dokter.
Beberapa menit kemudian dengan wajah tersenyum papa dan suamiku keluar dari ruang pemeriksaan. Ternyata papa dipasangin alat bantu untuk buang air kecil (kateter). Lega rasanya melihat mukanya yang penuh sukacita. Tapi ternyata sukacitaku tidak berlangsung begitu lama begitu mendengar diagnosa dokter tentang sakit papa. Suami saya menceritakan dalam perjalanan kami pulang tentang penyakit papa. Kata dokter kemungkinan besar papa mengalami pembengkakan prostat dan papa harus mengecek lagi ke rumah sakit untuk memastikannya. Tapi papa harus terus menggunakan kateter. "Tuhan, haruskah kami mengalami hal ini?", tanyaku dalam hati.
Seminggu berlalu, papa mulai kesakitan menggunakan kateter. Dan akhirnya oleh bantuan seorang suster yang kebetulan tinggal di depan rumah, kateter papapun dibuka. Saat itu kira-kira pukul 10 malam. Papa lega karena dia tidak memakai kateter lagi.
Kira-kira jam 3 subuh kami terbangun mendengar tangisan dari kamar papa. Papa kesakitan. Kamipun tidak bisa tidur karena harus melihat papa meskipun memang hanya suami yang bisa mengurusnya.
Pagi pun tiba dan kami memutuskan untuk papa kembali memakai "accesoris"-nya tersebut. "Meski sakit", kata Papa, "tapi jauh lebih mendingan dibanding tidak memakainya."
Akhirnya kamipun pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dan berkonsultasi dengan dokter. Jawaban dokter sungguh mengejutkan. Katanya penyakit pembengkakan prostat lazim pada setiap lelaki yang sudah tua. Obat untuk menyembuhkannya tidak ada. Pengobatannya bisa ditempuh dengan dua jalan. Pertama dioperasi. Tapi mengingat umur papa yang sudah tua, rasanya itu tidak mungkin dilaksanakan. Yang kedua, disedot. Jauh lebih mudah dan tidak beresiko tapi biayanya jauh lebih mahal. Jika tidak mau memilih kedua-duanya papa harus siap memakai kateter seumur hidup.
Begitu penjelasan dokter. Bagi kami semuanya itu terlalu berat. Kalaupun memilih memakai kateter, itupun berat bagi papa yang kesakitan kalau memakainya dan kamipun merasakan berat karena kateter harus diganti seminggu sekali seumur hidup papa. Biayanya bagi kami cukup berat. Tapi kami tahu ada Seorang Dokter yang luar biasa yang sanggup menolong kami.
Kami melewati hari demi hari selanjutnya dengan berdoa dan berpuasa. Kami percaya Yesus itu dahsyat. Dan akhirnya tiba saatnya kateter papa harus diganti. Kira-kira jam 9 malam perawatpun datang ke rumah. Kata perawat papa mengalami iritasi. Kalau mau papa istirahat dulu memakai kateter. Tapi kalau kesakitan panggil saya saja untuk memasang kateter tersebut, jam berapapun saya akan datang.
Malam itu kami lewati dengan tidur nyenyak. Ketika kami bangun kami melihat wajah papa senyum-senyum saja. Katanya, "Tuhan sudah sembuhkan papa. Semalam papa tidur nyenyak tanpa rasa sakit", sambungnya. Tidak biasanya papa seperti itu. Biasanya 2 jam tanpa kateter, papa pasti akan kesakitan. Tapi masih ada keraguan di hati ini.
Hari demi hari kami lewati, minggu demi minggu. LUAR BIASA!!!! Papa benar-benar sembuh. Ini suatu mukjizat yang luar biasa bagi kami. Tidak hanya prostat. Sudah setahun kuping papa mengalami gangguan. Tapi saat itupun kuping papa pulih. Kami menceritakan hal ini kepada seorang suster yang pernah menangani papa dan katanya, "Hal yang terjadi pada papa itu di luar jangkauan medis, itu mukjizat". HALELUYA.
Sumber: Joula Sambow
Segala sesuatu yang berkaitan dengan isi dan kebenaran dari kisah di atas diluar tanggung jawab Jawaban.com
Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini :
Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!
Sumber : Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 16 Januari 2010, kami sekeluarga berangkat ke puncak untuk mengikuti suatu acara. Bersama kami ikut juga Papa mertua yang usianya sudah 72 tahun. Kebetulan ada dua acara yang harus kami ikuti yaitu pagi jam 10 Natal Wanita dan siangnya jam 2 seminar buat Bapak-Bapak. Karena saya salah satu yang ikut ambil bagian dalam pelayanan (sebagai singer), maka kamipun berangkat lebih cepat. Akhirnya kami tiba tepat waktu dan acarapun dimulai.
Menjelang akhir acara Natal wanita tersebut saya melihat dari jauh suami saya memanggil saya dengan muka yang sangat serius. Dengan penuh pertanyaan saya pergi menghampirinya. "Papa sakit", katanya. "Sakit apa?", tanyaku terkejut. "Tidak bisa buang air kecil dan sekarang lagi merintih kesakitan di kamar mandi". "Kalau boleh selesai acara ini kita langsung pulang ya....", begitu cerita suami saya.
Selesai doa penutup saya langsung bergegas menemui papa dan benar dia lagi berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya kami langsung pulang dan tidak bisa mengikuti acara selanjutnya.
Hujan turun dengan deras saat kami dalam perjalanan pulang. Mata kami melihat-lihat ke kiri kanan jalan untuk mencari klinik. Akhirnya ketemu. Papapun turun masih dengan rintihan-rintihan kesakitan. Suamiku menemaninya masuk ke ruang pemeriksaan dokter.
Beberapa menit kemudian dengan wajah tersenyum papa dan suamiku keluar dari ruang pemeriksaan. Ternyata papa dipasangin alat bantu untuk buang air kecil (kateter). Lega rasanya melihat mukanya yang penuh sukacita. Tapi ternyata sukacitaku tidak berlangsung begitu lama begitu mendengar diagnosa dokter tentang sakit papa. Suami saya menceritakan dalam perjalanan kami pulang tentang penyakit papa. Kata dokter kemungkinan besar papa mengalami pembengkakan prostat dan papa harus mengecek lagi ke rumah sakit untuk memastikannya. Tapi papa harus terus menggunakan kateter. "Tuhan, haruskah kami mengalami hal ini?", tanyaku dalam hati.
Seminggu berlalu, papa mulai kesakitan menggunakan kateter. Dan akhirnya oleh bantuan seorang suster yang kebetulan tinggal di depan rumah, kateter papapun dibuka. Saat itu kira-kira pukul 10 malam. Papa lega karena dia tidak memakai kateter lagi.
Kira-kira jam 3 subuh kami terbangun mendengar tangisan dari kamar papa. Papa kesakitan. Kamipun tidak bisa tidur karena harus melihat papa meskipun memang hanya suami yang bisa mengurusnya.
Pagi pun tiba dan kami memutuskan untuk papa kembali memakai "accesoris"-nya tersebut. "Meski sakit", kata Papa, "tapi jauh lebih mendingan dibanding tidak memakainya."
Akhirnya kamipun pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dan berkonsultasi dengan dokter. Jawaban dokter sungguh mengejutkan. Katanya penyakit pembengkakan prostat lazim pada setiap lelaki yang sudah tua. Obat untuk menyembuhkannya tidak ada. Pengobatannya bisa ditempuh dengan dua jalan. Pertama dioperasi. Tapi mengingat umur papa yang sudah tua, rasanya itu tidak mungkin dilaksanakan. Yang kedua, disedot. Jauh lebih mudah dan tidak beresiko tapi biayanya jauh lebih mahal. Jika tidak mau memilih kedua-duanya papa harus siap memakai kateter seumur hidup.
Begitu penjelasan dokter. Bagi kami semuanya itu terlalu berat. Kalaupun memilih memakai kateter, itupun berat bagi papa yang kesakitan kalau memakainya dan kamipun merasakan berat karena kateter harus diganti seminggu sekali seumur hidup papa. Biayanya bagi kami cukup berat. Tapi kami tahu ada Seorang Dokter yang luar biasa yang sanggup menolong kami.
Kami melewati hari demi hari selanjutnya dengan berdoa dan berpuasa. Kami percaya Yesus itu dahsyat. Dan akhirnya tiba saatnya kateter papa harus diganti. Kira-kira jam 9 malam perawatpun datang ke rumah. Kata perawat papa mengalami iritasi. Kalau mau papa istirahat dulu memakai kateter. Tapi kalau kesakitan panggil saya saja untuk memasang kateter tersebut, jam berapapun saya akan datang.
Malam itu kami lewati dengan tidur nyenyak. Ketika kami bangun kami melihat wajah papa senyum-senyum saja. Katanya, "Tuhan sudah sembuhkan papa. Semalam papa tidur nyenyak tanpa rasa sakit", sambungnya. Tidak biasanya papa seperti itu. Biasanya 2 jam tanpa kateter, papa pasti akan kesakitan. Tapi masih ada keraguan di hati ini.
Hari demi hari kami lewati, minggu demi minggu. LUAR BIASA!!!! Papa benar-benar sembuh. Ini suatu mukjizat yang luar biasa bagi kami. Tidak hanya prostat. Sudah setahun kuping papa mengalami gangguan. Tapi saat itupun kuping papa pulih. Kami menceritakan hal ini kepada seorang suster yang pernah menangani papa dan katanya, "Hal yang terjadi pada papa itu di luar jangkauan medis, itu mukjizat". HALELUYA.
Sumber: Joula Sambow
Segala sesuatu yang berkaitan dengan isi dan kebenaran dari kisah di atas diluar tanggung jawab Jawaban.com
Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini :
Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!
Sumber : Beberapa waktu yang lalu tepatnya tanggal 16 Januari 2010, kami sekeluarga berangkat ke puncak untuk mengikuti suatu acara. Bersama kami ikut juga Papa mertua yang usianya sudah 72 tahun. Kebetulan ada dua acara yang harus kami ikuti yaitu pagi jam 10 Natal Wanita dan siangnya jam 2 seminar buat Bapak-Bapak. Karena saya salah satu yang ikut ambil bagian dalam pelayanan (sebagai singer), maka kamipun berangkat lebih cepat. Akhirnya kami tiba tepat waktu dan acarapun dimulai.
Menjelang akhir acara Natal wanita tersebut saya melihat dari jauh suami saya memanggil saya dengan muka yang sangat serius. Dengan penuh pertanyaan saya pergi menghampirinya. "Papa sakit", katanya. "Sakit apa?", tanyaku terkejut. "Tidak bisa buang air kecil dan sekarang lagi merintih kesakitan di kamar mandi". "Kalau boleh selesai acara ini kita langsung pulang ya....", begitu cerita suami saya.
Selesai doa penutup saya langsung bergegas menemui papa dan benar dia lagi berteriak-teriak kesakitan. Akhirnya kami langsung pulang dan tidak bisa mengikuti acara selanjutnya.
Hujan turun dengan deras saat kami dalam perjalanan pulang. Mata kami melihat-lihat ke kiri kanan jalan untuk mencari klinik. Akhirnya ketemu. Papapun turun masih dengan rintihan-rintihan kesakitan. Suamiku menemaninya masuk ke ruang pemeriksaan dokter.
Beberapa menit kemudian dengan wajah tersenyum papa dan suamiku keluar dari ruang pemeriksaan. Ternyata papa dipasangin alat bantu untuk buang air kecil (kateter). Lega rasanya melihat mukanya yang penuh sukacita. Tapi ternyata sukacitaku tidak berlangsung begitu lama begitu mendengar diagnosa dokter tentang sakit papa. Suami saya menceritakan dalam perjalanan kami pulang tentang penyakit papa. Kata dokter kemungkinan besar papa mengalami pembengkakan prostat dan papa harus mengecek lagi ke rumah sakit untuk memastikannya. Tapi papa harus terus menggunakan kateter. "Tuhan, haruskah kami mengalami hal ini?", tanyaku dalam hati.
Seminggu berlalu, papa mulai kesakitan menggunakan kateter. Dan akhirnya oleh bantuan seorang suster yang kebetulan tinggal di depan rumah, kateter papapun dibuka. Saat itu kira-kira pukul 10 malam. Papa lega karena dia tidak memakai kateter lagi.
Kira-kira jam 3 subuh kami terbangun mendengar tangisan dari kamar papa. Papa kesakitan. Kamipun tidak bisa tidur karena harus melihat papa meskipun memang hanya suami yang bisa mengurusnya.
Pagi pun tiba dan kami memutuskan untuk papa kembali memakai "accesoris"-nya tersebut. "Meski sakit", kata Papa, "tapi jauh lebih mendingan dibanding tidak memakainya."
Akhirnya kamipun pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dan berkonsultasi dengan dokter. Jawaban dokter sungguh mengejutkan. Katanya penyakit pembengkakan prostat lazim pada setiap lelaki yang sudah tua. Obat untuk menyembuhkannya tidak ada. Pengobatannya bisa ditempuh dengan dua jalan. Pertama dioperasi. Tapi mengingat umur papa yang sudah tua, rasanya itu tidak mungkin dilaksanakan. Yang kedua, disedot. Jauh lebih mudah dan tidak beresiko tapi biayanya jauh lebih mahal. Jika tidak mau memilih kedua-duanya papa harus siap memakai kateter seumur hidup.
Begitu penjelasan dokter. Bagi kami semuanya itu terlalu berat. Kalaupun memilih memakai kateter, itupun berat bagi papa yang kesakitan kalau memakainya dan kamipun merasakan berat karena kateter harus diganti seminggu sekali seumur hidup papa. Biayanya bagi kami cukup berat. Tapi kami tahu ada Seorang Dokter yang luar biasa yang sanggup menolong kami.
Kami melewati hari demi hari selanjutnya dengan berdoa dan berpuasa. Kami percaya Yesus itu dahsyat. Dan akhirnya tiba saatnya kateter papa harus diganti. Kira-kira jam 9 malam perawatpun datang ke rumah. Kata perawat papa mengalami iritasi. Kalau mau papa istirahat dulu memakai kateter. Tapi kalau kesakitan panggil saya saja untuk memasang kateter tersebut, jam berapapun saya akan datang.
Malam itu kami lewati dengan tidur nyenyak. Ketika kami bangun kami melihat wajah papa senyum-senyum saja. Katanya, "Tuhan sudah sembuhkan papa. Semalam papa tidur nyenyak tanpa rasa sakit", sambungnya. Tidak biasanya papa seperti itu. Biasanya 2 jam tanpa kateter, papa pasti akan kesakitan. Tapi masih ada keraguan di hati ini.
Hari demi hari kami lewati, minggu demi minggu. LUAR BIASA!!!! Papa benar-benar sembuh. Ini suatu mukjizat yang luar biasa bagi kami. Tidak hanya prostat. Sudah setahun kuping papa mengalami gangguan. Tapi saat itupun kuping papa pulih. Kami menceritakan hal ini kepada seorang suster yang pernah menangani papa dan katanya, "Hal yang terjadi pada papa itu di luar jangkauan medis, itu mukjizat". HALELUYA.
Sumber: Joula Sambow
Segala sesuatu yang berkaitan dengan isi dan kebenaran dari kisah di atas diluar tanggung jawab Jawaban.com
Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini :
Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!
Sekretariat : Jalan Bibis IV/2 Surabaya 60161. Telp. (031)3521551 Fax. (031)3534808
JEMAAT BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY
Gembala Sidang : Pdt. Jusak Santoso JADWAL IBADAH RAYA : New Grand Park Hotel Jl. Samudra 3 - 5 Surabaya. Minggu Ibadah Raya I ~ Pk. 06.00 WIB (Disertai Penyerahan anak) Ibadah Raya Anak I (Sekolah Minggu I) ; Minggu Ibadah Raya II ~ Pk. 08.30 WIB (Disertai Penyerahan anak) Ibadah Raya Anak II (Sekolah Minggu II) ; Minggu Ibadah Raya III ~ Pk. 17.00 WIB Di Ruko Pengampon Square F-28 Jl. Semut Baru Surabaya. Minggu ketiga, Ibadah Raya I,II & III Setiap bulannya disertai dengan Sakramen Perjamuan Kudus. JADWAL KEBAKTIAN : Di Ruko Pengampon Square Blok F-28 Jalan Semut Baru Surabaya. Senin Pk. 18.30 WIB Pendalaman Alkitab. Selasa Pk. 10.00 WIB Kebaktian Kaum Wanita. Pk. 18.00 WIB Kebaktian Cabang (Jln. Tegalsari No. 62 Surabaya). Rabu Pk. 10.00 WIB Doa & Puasa. Pk. 18.30 WIB Doa Malam. Jum'at Pk. 18.00 WIB Youth Community. Pk. 22.00-04.00 WIB Doa Semalam Suntuk. Senin s/d Sabtu Pk. 04.30-05.30 WIB Doa Pagi . "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" (Yesaya 55:6)
RAHASIA HIDUP DALAM BERKAT TUHAN
RAHASIA HIDUP DALAM BERKAT TUHAN : 1. Berilah Hati untuk Tuhan 2. Berilah Pikiran untuk Tuhan 3. Berilah Waktu untuk Tuhan Maka akan terjadi Percaya DAPAT Pasti DAPAT (Markus 11:24) BANYAK BERDOA banyak BERKAT, SEDIKIT BERDOA berarti sedikit BERKAT, TIDAK BERDOA dipastikan tidak ada BERKAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar