JEMAAT BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY

Gembala Sidang : Pdt. Jusak Santoso JADWAL IBADAH RAYA : New Grand Park Hotel Jl. Samudra 3 - 5 Surabaya. Minggu Ibadah Raya I ~ Pk. 06.00 WIB (Disertai Penyerahan anak) Ibadah Raya Anak I (Sekolah Minggu I) ; Minggu Ibadah Raya II ~ Pk. 08.30 WIB (Disertai Penyerahan anak) Ibadah Raya Anak II (Sekolah Minggu II) ; Minggu Ibadah Raya III ~ Pk. 17.00 WIB Di Ruko Pengampon Square F-28 Jl. Semut Baru Surabaya. Minggu ketiga, Ibadah Raya I,II & III Setiap bulannya disertai dengan Sakramen Perjamuan Kudus. JADWAL KEBAKTIAN : Di Ruko Pengampon Square Blok F-28 Jalan Semut Baru Surabaya. Senin Pk. 18.30 WIB Pendalaman Alkitab. Selasa Pk. 10.00 WIB Kebaktian Kaum Wanita. Pk. 18.00 WIB Kebaktian Cabang (Jln. Tegalsari No. 62 Surabaya). Rabu Pk. 10.00 WIB Doa & Puasa. Pk. 18.30 WIB Doa Malam. Jum'at Pk. 18.00 WIB Youth Community. Pk. 22.00-04.00 WIB Doa Semalam Suntuk. Senin s/d Sabtu Pk. 04.30-05.30 WIB Doa Pagi . "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" (Yesaya 55:6)

RAHASIA HIDUP DALAM BERKAT TUHAN

RAHASIA HIDUP DALAM BERKAT TUHAN : 1. Berilah Hati untuk Tuhan 2. Berilah Pikiran untuk Tuhan 3. Berilah Waktu untuk Tuhan Maka akan terjadi Percaya DAPAT Pasti DAPAT (Markus 11:24) BANYAK BERDOA banyak BERKAT, SEDIKIT BERDOA berarti sedikit BERKAT, TIDAK BERDOA dipastikan tidak ada BERKAT
Tampilkan postingan dengan label "FIRMAN-MU Pelita bagi Hidupku". Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label "FIRMAN-MU Pelita bagi Hidupku". Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Mei 2010

Adakah Anak Manusia Mendapati Iman di Bumi? (II)

Merka harus ada
saat ini dan disini terus
menerus dengan setia
mengerjakan pekerjaan
yang diserahkan kepada
mereka. (Ajaran ini juga
terdapat dalam
perumpamaan tentang
uang Mina dalam Lukas
19:11-27).
Anak Manusia pada hari
kedatanganNya akan
sama seperti kilat
memancar yang
menerangi 'ujung langit
yang satu ke ujung
langit yang lain' (Lukas
17:24). terangNya akan
sanggup menyelidiki
bumi untuk melihat
adakah iman disana,
siapapun dia, 'seorang
mengurus rumah yang
setia dan bijaksana'
yang didapati tuannya
melakukan tugasnya
dengan setia ketika
tuannya itu datang
(Lukas 12:42-44).
Jadi, pertanyaan
"Adakah Anak Manusia
mendapati iman di bumi?"
tetapi merupakan kalimat
tanya dengan beberapa
kemungkinan jawaban,
baik dari segi fakta
maupun bentuk. Jawaban
atas pertanyaan ini
tergantung dari
ketaatan yang dilakukan
dengans etia oleh
mereka yang menunggu
untuk mempertanggung-
jawabkan segala tugas
mereka bila saatnya
tiba.
Sumber :
- FF Bruce, Ucapan
Yesus yang Sulit, SAAT
Malang, p 217-219
- TW Manson, The
Sayings, p 308

Sabtu, 27 Maret 2010

Anak Manusia Tidak Mempunyai Tempat Untuk Meletakkan Kepalanya

Matius 8:19-23
8:19 Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya: "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."
8:20 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
8:21 Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya, berkata kepada-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku."
8:22 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Ikutlah Aku dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka."
8:23 Lalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya.


* Lukas 9:57-62
9:57 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi."
9:58 Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."
9:59 Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku."
9:60 Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana."
9:61 Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku."
9:62 Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."


Perkataan ini muncul dalam wawancara antara Tuhan Yesus dengan calon-calon murid. Perkataan ini bisa disebut perkataan keras dalam arti bahwa perkataan ini merupakan peringatan bagi calon murid tentang kesulitan-kesulitan yang bakal ditemui bila mengikut Yesus. Seorang itu mencalonkan diri untuk ikut rombongan Tuhan Yesus karena membayangkan kedudukan tetap : "Guru, aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi". Lalu Tuhan Yesus memperingatkan dia, kalau binatang-binatang liar mempunyai tempat dimana mereka bisa beristirahat pada waktu malam (serigala dalam liangnya, dan burung dalam sarangnya), maka Tuhan Yesus sendiri tidak tahu dimana Ia bisa menemukan tempat untuk berteduh hari lepas setelah Ia berjalan keliling, dan kalaupun malam ini Ia menemukan tempat berteduh, belum tentu Ia menemukannya pada malam berikutnya. Dan para pengikutNya haruslah siap menanggung nasip yang sama. Tidak adanya tempat yang tetap yang bisa disebut milikNya hanyalah merupakan satu segi dari penghinaan terhadap Anak Manusia – suatu penghinaan yang sulit diterima oleh banyak murid Tuhan. Dan perkataan ini berkenaan dengan kesulitan-kesulitan dan kesengsaraan sebagai akibat mengikut Anak Manusia.

Sumber :
- FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 176 -178
http://www.facebook.com/l/60e99;www.sarapanpagi.org

BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY

Rabu, 17 Maret 2010

Enyahlah Iblis

Ucapan Yesus Yang Sulit, 36:

Markus 8:27-33
8:27 Kemudian Yesus beserta murid-murid-Nya berangkat ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi. Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Kata orang, siapakah Aku ini?"
8:28 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi."
8:29 Ia bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Petrus: "Engkau adalah Mesias!"
8:30 Lalu Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.
8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


* Matius 16:13-23
16:13 Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?"
16:14 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."
16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
16:16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
16:17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.
16:18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.
16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."
16:20 Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias.
16:21 Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.
16:22 Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau."
16:23 Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Mengapa Tuhan Yesus mengecam Petrus dengan begitu keras? Ketika di sekitar Kaesaria Filipi, Petrus mengakui Tuhan Yesus sebagai Mesias, Tuhan Yesus sungguh-sungguh memesan agar Petrus dan murid-muridNya yang lain tidak mengatakannya kepada siapapun. Mengapa? Mungkin karena gelar "Mesias" (raja yang diurapi) telah begitu melembaga dalam pikiran kebanyakan orang, dan dalam taraf tertentu juga dalam pikiran murid-murid,s ebagai sesuatu yang berkaitan dengan pimpinan politik dan penakluk bersenjata, hal mana sangat berbeda dengan pemahaman Tuhan Yesus tentang misiNya di dunia. Jika orang-orang Galilea tahu bahwa murid-murid Tuhan Yesus beranggapan bahwa Ia itu Mesias, maka keyakinan mereka tentang Dia akan diperkuat, dan ini bisa menimbulkan malapetaka. Tuhan Yesus sendiri telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menghindar saat Ia memberi makan 5000 orang.

Murid-murid harus belajar mengerti bahwa bukan kemenangan atas Roma dan singgasana raja yang emnungguNya, tetapi kesengsaraan dan kematian yang kejam. (lihat Yesaya 52:13 – 53:12). Kalau mereka percaya bahwa Ia itu Mesias, mereka harus tahu Mesias macam apa Dia. Jika mereka masih ingin mengikuti Dia, emreka harus benar-benar menyadari Pemimpin macam apa yang mereka ikuti, dan apa yang ada di akhir jalan yang Ia kejar.

Dalam Markus 8:31 ini tertulis pernyataan Tuhan Yesus menggoncangkan mereka. Ini bukan yang mereka harapkan. Ketergoncangan mereka disuarakan (seperti biasanya) oleh Petrus, yang dalam prihatinnya menggapit lengan Tuhan Yesus dalam suatu gerakan spontan dan mulailah ia membantah Dia dengan halus "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (Matius 16:22). Atas bantahan inilah Tuhan Yesus memberi jawaban yang sangat keras.

Kata-kata yang Ia pakai dalam ajwabanNya ini mengingatkan kita kepada jawaban yang Tuhan Yesus pakai untuk memukul mundur Iblis yang mencobai Dia di Padang Gurun. Dan memang pengertiannya disini sangat mirip disana. "Iblis" (Ibrani, SATAN) pada dasarnya, bukan nama sebenarnya, berarti 'musuh' atau 'lawan'. Dalam Perjanjian Lama bila kata ini didahului oleh sebuah artikel tertentu (the dalam bahasa Inggris), maka artinya 'sang musuh' atau 'sang lawan'. Misalnya dalam Kitab Ayub, ketika Iblis (lebih tepat disebut 'sang Iblis') dikatakan ikut hadir dalam suatu pertemuan Surgawi dengan Allah :


* Ayub 1:6
Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
KJV, Now there was a day when the sons of God came to present themselves before the LORD, and Satan came also among them.
Hebrew Translit, VAYEHI HAYOM VAYAVO'U BENEI HA'ELOHIM LEHITYATSEV AL-YEHOVAH VAYAVO GAM-HASATAN BETOKHAM


Perkataan ini berarti 'sang Musuh'. Inilah peran yang biasa dari pribadi yang tidak menyenangkan itu dalam Perjanjian Lama. Setiap persidangan harus ada penuntutnya, tetapi penuntut ini begitu menyenangi pekerjaannya sehingga, kalau ia tidak mempunyai calon yang cukup kuat untuk ia tuntut, ia pergi mencobai orang-orang agar melakukan perbuatan yang salah, sehingga ia bisa puas menuntut mereka, bandingkan dengan ayat ini :
* 1 Tawarikh 21:1
Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.
KJV, And Satan stood up against Israel, and provoked David to number Israel.
Hebrew Translit, VAYA'AMOD SATAN 'AL-YISRA'EL VAYASET 'ET-DAVID LIMENOT 'ET-YISERA'EL


Jadi, perannya sebagai penuntut lebih utama daripada perannya sebagai p-encoba. Bahasa Yunani untuk Iblis adalah "diabolos" , yang berarti 'pendakwa' (kata 'devil' dalam bahasa Inggris berasal dari kata ini).

Dalam karakternya sebagai pencoba, ia menjumpai Tuhan Yesus di padang gurun. Tuhan Yesus baru saja dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan Ia telah menerima kepastian dari Bapa bahwa Ia adalah AnakNya, Anak yang Ia kasihi dan Ia perkenan. Kata-kata yang ditujukan kepadaNya oleh Suara dari Surga (Markus 1:11) sangat mirip dengan :


* Yesaya 42:1
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa.


Allah memperkenalkan orang yang Ia sebut sebagi HambaNya. Jika Tuhan Yesus mendengar dari suara bahwa Ia harus memenuhi panggilan hidupNya menurut gambaran seorang hamba Allah dalam Yesaya 42:1-4 dan dalam bagian-bagian lain dari Yesaya, khususnya dalam Yesaya 52:13-53:12, yang sama-sama diawali dengan "Lihat, itu hambaku" (behold My Servant), maka jelaslah bagi Tuhan Yesus bahwa harapan yang umum berlaku tentang Mesias yang menaklukkan musuh (penjajahan Romawi) tidak bakal terealisir melalui Dia.

Kerendahan hati, ketaatan, penderitaan, dan kematian menandai jalan yang dikehendaki Allah bagi Dia. Pencobaan-pencobaan yang menyerang Dia di padang gurun diperhitungkan oleh si pendakwa sebagai strategi untuk melemahkan ketaatanNya kepada Bapa. Termasuk didalamnya 'pencobaan untuk memenuhi suratan takdirnya sesuai dengan pengharapan orang banyak , namun tidak seuai dengan kehendak BapaNya.

Khususnya kita ingat pencobaan untuk menerima kuasa dunia menurut syarat-syarat sang musuh, "Semuanya ini akan menjadi milikMu", kata Iblis kepada Tuhan Yesus, "jika Engkau mau sujud dan menyembah aku". Banyak orang ambisius telah menyerah pada pencobaan ini sebelum peristiwa padang gurun, dan banyak orang telah menyerah sejak itu. Tetapi Tuhan Yesus menolak tawaran musuh. Dan dalam penolakanNya terhadap perncobaan inilah Ia berkata "Enyahlah Iblis!" (Matius 4:10).

Sekarang, dalam bibir Petrus (Markus 8:32), Tuhan Yesus mendengar sesuatu yang Ia kenali sebagai pencobaan yang sama. Petrus sedang berusaha untuk menghalangiNya menaati kehendak Bapa. Petrus sendiri tidak menyadari bahwa ia sendang melakukan hal itu. Ia hanya tergerak oleh belas kasihan dan rasa khawatir akan keselamatan GuruNya. Ia tidak suka mendengar Tuhan Yesus mengucapkan kata-kata yang menubuatkan petaka : "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak" (Markus 8:31). Tetapi saat itu Petrus sedang berperan sebagai sang musuh, betapapun ia memerankannya dengan tidak sengaja ataupun dengan maksud baik. Karena seperti kata Tuhan Yesus kepadanya "Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia" (Markus 8:33).

Bandingkan dengan :


* Matius 16:23
Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia."


Perhatikan frasa "Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku", kita ingat bahwa dalam Matius 16:18 mencatat kata-kata Yesus yang mengatakan Petrus adalah batu-karang. Disini ada dua macam batu karang : ada semacam batu karang yang bisa menajdi dasar teguh, dan ada batu karang yang menghalangi jalan dan membuat orang tersandung padanya.
Memang, batu karang yang sama kadang-kadang bisa memenuhi kedua fungsi ini. Ada kisahnya di Yesaya 8:13-15 dimana Allah sediri menjadi Batu Karang dan menawarkan tempat kudus yang menyelamatkan bagi mereka perlindungan padanya pada saat air bah, tetapi juga akan menjadi 'batu sentuhan dan batu sandungan' bagi orang yang terhempas padanya oleh air yang berpusar :


* Yesaya 8:13-15
8:13 Tetapi TUHAN semesta alam, Dialah yang harus kamu akui sebagai Yang Kudus; kepada-Nyalah harus kamu takut dan terhadap Dialah harus kamu gentar.
8:14 Ia akan menjadi tempat kudus, tetapi juga menjadi batu s entuhan dan batu sandungan bagi kedua kaum Israel itu, serta menjadi jerat dan perangkap bagi penduduk Yerusalem.
8:15 Dan banyak di antara mereka akan tersandung, jatuh dan luka parah, tertangkap dan tertawan."


Menjadi satu pemilihan tersendiri bagi Petrus apakah ia akan menjadi batu fondasi atau batu sandungan. Tetapi berkat doa yang dipanjatkan Gurunya baginya pada saat genting, Petrus menguatkan saudara-saudaranya (Lukas 22:32). Meskipun sejarah mencatat ia pernah menyangkal Tuhan Yesus pada peristiwa penyaliban, hal tersebut tidak menjadikan ia menjadi terhilang dan menjadi murtad. Rasul Petrus menjadi tokoh yang begitu penting dalam masa Jemaat mula-mula. Ia bertindak sebagai ketua kelompok murid-murid di Yerusalem sebelum kedatangan Roh Kudus pada Hari Pentakosta Kristen yang pertama (Kisah 1:15-26). Pada hari Pentakosta, Petruslah yang mewartakan Injil dengan begitu efektif sehingga tigaribu orang menjadi percaya dan digabungkan dalam Gereja (Kisah 2:14-41). Beberapa waktu kemudian, Petrus pulalah yang pertama-tama mewartakan Injil kepada orang-orang yang bukan Yahudi dan dengan demikian 'ia membuka pintu iman' bagi bangsa-bangsa lain dan bangsa Yahudi (Kisah 10:34-48 ). Baik di Yerusalem pada hari pentakosta maupun di rumah Kornelius di Kaisarea, maka apa yang dilakukan Petrus di dunia dimeteraikan di Surga oleh karena Roh Kudus dicurahkan keatas orang-orang yang bertobat karena pemberitaannya, pelayanannya terutama menjadi penting dalam pendekatannya kepada bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Sumber :
- FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 160-164
www.sarapanpagi.org

Jumat, 05 Maret 2010

Iblis Jatuh

Ucapan Yesus Yang Sulit, 33:

Lukas 10:17-20
10:17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu."

10:18 Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit."
TR, ειπεν δε αυτοις εθεωρουν τον σαταναν ως αστραπην εκ του ουρανου πεσοντα
Translit Interlinear, eipen {Dia berkata} de {dan} autois {kepada mereka} etheôroun {Aku melihat} ton satanan {Setan} hôs {seperti} astrapên {kilat} ek {dari} tou ouranou {langit} pesonta {jatuh}

10:19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.
10:20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga."



Ada Penafsir yang beranggapan bahwa Lukas 10:18 ini mungkin mengacu kepada antikristus akhir zaman yang akan memerintah "Babel". Ada yang menghubungkannya dengan Yesaya 14:12 (Lucifer/ Bintang Timur Putra Fajar).

Namun perlu juga kita meliihat bahwa Tuhan Yesus berbicara tentang kejatuhan Iblis dari langit Ia tidak memikirkan suatu kejadian 'masa lampau' yang sangat jauh. Namun Ia sedang membicarakan akibat pelayananNya saat itu.
Tuhan Yesus telah mengutus 70 orang muridNya untuk menyebarkan berita bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, dan sekarang mereka kembali dengan suka-cita yang besar : "Wah", kata mereka, "juga Setan-setan takhluk kepada kami demi namaMu!" (Lukas 10:17). Atas pernyataan ini Tuhan Yesus menjawab : "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit" (Lukas 10:18 ). Diartikan bahwa Ia sedang menantikan hal ini ketika tiba-tiba seperti kilat dari langit, hal yang dinantikan itu terjadi : Iblis dilemparkan!.

Utusan-utusan Tuhan Yesus melihat bahwa Setan-setan – kuasa-kuasa jahat yang membelenggu umat manusia dipaksa untuk taat. Murid-murid Tuhan Yesus memerintah setan-setan keluar dari orang yang mereka rasuki dalam nama Yesus, dan setan-setan itu keluar. Laporan dari ke 70 orang murid ini memperlihatkan kekalahan Iblis, dan pernyataan Tugan Yesus tentang kejatuhannya dari langit (ayat 18 ) mengukuhkan hal ini.

Demikian juga saat Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 12:31 "sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar" (Yohanes 12:31). Kata keterangan 'sekarang' menunjuk kepada semangatNya yang terhadap sesuatu yang segera tiba dari akhir pelayananNya.

"Kejatuhan Iblis", bisa dianggap sebagai kemenangan yang menentukan pernyataan ini, dan hal ini terus berlangsung. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid yang sedang bergembira itu demikian : "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu" (Lukas 10:19).
'Ular dan kalajengking' melambangkan kuasa-kuasa kejahatan : berkat karya Kristus, maka umatNya dapat menginjak kuasa-kuasa kejahatan dan memperoleh kemenangan atas mereka. Pengibaratan ini bisa dibandingkan dengan ayat sbb :


* Mazmur 91:13
Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular naga.


Bandingkan pula dengan Kejadian pasal 3, tentang sosok ular dipakai iblis untuk membujuk manusia berbuat dosa.

Paulus menasehati jemaat di Roma, bahwa jika mereka 'bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat, maka Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kaki mereka' (Roma 16:19-20).
Hal ini menandakan bahwa dalam zaman keselamatan yang ditandai dengan hadirnya Tuhan Yesus Kristus dan kematian kurbanNya menjadi tanda bahwa kuasa Iblis dan kaki tangannya pada asasnya sudah dihancurkan. Kuasa itu tak perlu lagi ditakuti, dalam penjelmaan apapun cara mereka untuk mengancam kita. Siapa yang memerangi kuasa itu "demi nama Tuhan Yesus Kristus" - dengan berpegang kepada kemenangan yang telah Dia capai – maka murid-murid Tuhan Yesus akan menang!.

Pada Lukas 10:20, Tuhan Yesus menambahkan "janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga". Dapat kita ambil pengertiannya "janganlah kamu pertama-tama bersuka cita karena karena karunia-karunia khusus itu (Yunani, 'charismata'), tetapi hendaklah kamu terutama bersuka cita karena kenyataan bahwa 'namamu ada terdaftar di Surga'". Dengan kata lain : "Bersukacitalah terutama karena Allah telah menunjukkan kasihNya dan anugerahNya kepadamu, sehingga kamu boleh mengenal dan mengasihi Dia, dan boleh hidup dalam bersekutuan dengan Dia (lihat 1 Korintus 12:28-31 dan 1 Koriuntus 13, dimana Paulus berbicara tentang berbagai-bagai karunia, kemudian menunjuk kepada apa yang lebih dari karunia-karunia itu, yakni iman, harapan dan kasih, yang diantaranya kasihlah yang terutama!).

Apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Lukas 10:20 ini cukup jelas maksudnya bahwa Janganlah bersuka-cita karena bermacam-macam karunia itu, dan janganlah menjadi sombong atas berbagai-bagai hasil akibat pemberitaan Injil! Sebab bahaya sekali jika kita memandang bahwa diri kita dan pekerjaan kita sendiri terlalu penting!
Maka dari itu, bersukacitalah terutama karena anugerah dan kasih yang ditunjukkan Allah kepada kita, sehingga kita senantiasa menjadi seseorang yang rendah-hati dan bersuka cita didalam Tuhan, yaitu dengan mengingat segala sesuatu yang sudah diperbua Allah bagi kita semua (Filipi 4:4).

Sumber :
- FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 144-146
- BJ Boland, Injil Lukas, p 260-262

Selasa, 02 Maret 2010

Membenci Orang-tuanya

Ucapan Yesus Yang Sulit, 29 :

Lukas 14:25-26
14:25 Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:
14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.


Perkataan ini keras dalam lebih dari satu segi. Sulit untuk diterima dan sulit untuk diselaraskan dengan ajaran Tuhan Yesus secara umum. Sikap hidup yang kelihatannya dianjurkan disini berlawanan dengan kehendak alam dan juga berlawanan dengan hukum mengasihi sesama yang ditekankan dan diperbarui Tuhan Yesus. Marilah kita kaji ayatnya secara cermat sehingga kita mengerti apa yang dimaksudkan Tuhan Kita Yesus Kristus. :


* Lukas 14:26
LAI TB, "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
KJV, If any man come to me, and hate not his father, and mother, and wife, and children, and brethren, and sisters, yea, and his own life also, he cannot be my disciple.
TR, ει τις ερχεται προς με και ου μισει τον πατερα εαυτου και την μητερα και την γυναικα και τα τεκνα και τους αδελφους και τας αδελφας ετι δε και την εαυτου ψυχην ου δυναται μου μαθητης ειναι
Translit interlinear, ei {jika} tis {seseorang} erchetai {ia datang} pros {kepada} me {-Ku} kai {dan} ou {tidak} misei {'membenci'} ton patera {ayah} heautou {-nya} kai {dan} tên mêtera {ibu} kai {dan} tên gunaika {istri} kai {dan} ta tekna {anak-anak} kai {dan} tous adelphous {saudara-saudara pria} kai {dan} tas adelphas {saudara-saudara wanita} eti {bahkan} de {tetapi} kai {dan} tên heautou {-nya sendiri} psuchên {jiwa} ou {tidak} dunatai {ia dapat} mou {-Ku} mathêtês {murid} einai {ia menjadi}


Kata yang sulit dipahami disini adalah "membenci" Yunani "μισει – misei", ditulis dalam bentuk verb - present active indicative - third person singular , dari kata μισεω - "miseô", leksikon Yunani : to detest (especially to persecute); by extension, to love less -- hate(-ful).


Kita sering menekankan makna 'kebencian' dalam konotasi negatif alias perasaan sangat tidak suka. Padahal kata "benci" dalam ayat di atas mempunyai makna lain.
Kata itu diterjemahkan dari kata "misei" dari kata "miseô" sedangkan "miseô" sendiri berasal dari "misos".

Orang Semit suka menggabungkan ide-ide berlawanan menjadi sepasang kata, tanpa menjelaskan warna tengahnya, kata "miseô" dapat saja berarti kurang mengasihi bila diterapkan kepada Allah atau pada sikap manusia terhadap kaum keluarganya atau terhadap dirinya sendiri bila ia mendengar panggilan Allah. Kata "miseô" ini berbeda maknanya bila misalnya dikatakan bahwa manusia harus membenci yang jahat. Leksikon Yunani juga menerangkan bahwa kata "miseô" ini juga bermakna to love less.

Seringkali keluarga justru menjadi penghalang antara kita dengan Kerajaan Allah. Bagi pengikut Tuhan Yesus, minat akan Kerajaan Allah haruslah yang utama. Segala urusan harus menjadi nomor dua, termasuk ikatan-ikatan keluarga.
Orang bisa saja begitu terbelit oleh ikatan-ikatan keluarga, sehingga tidak ada waktu dan perhatian untuk hal-hal yang lebih besar. Dan tidak ada yang lebih besar daripada hal Kerajaan Allah. Suami atau ayah tentunya menjadi kepala keluarga, seseorang bisa memandang keluarganya sebagai hal yang paling utama diatas segalanya. Tuhan Yesus dengan keras mengecam sikap yang mengarah kepada diri-sendiri semacam itu, sehingga Ia menggunakan kata-kata keras untuk menyatakan ketidaksetujuanNya. Kalau hal "miseô" (to love less; mencintai lebih sedikit (kurang)) terasa mengejutkan, hal ini memang dimaksudkan agar para pendengarNya sadar akan besarnya kekuasaan dan tuntutan Kerajaan Allah. Tuhan Yesus memang menuntut agar kesetiaan dan kasih kepada-Nya lebih besar daripada setiap hubungan kasih sayang yang lain, sekalipun kepada keluarga sendiri. Bandingkan dengan ayat ini.


* Matius 10:37-39
LAI TB, "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."
KJV, He that loveth father or mother more than me is not worthy of me: and he that loveth son or daughter more than me is not worthy of me.
TR, ο φιλων πατερα η μητερα υπερ εμε ουκ εστιν μου αξιος και ο φιλων υιον η θυγατερα υπερ εμε ουκ εστιν μου αξιος
Translit interlinear, ho {yang} philôn {mengasihi} patera {ayah} ê {atau} mêtera {ibu} huper {diatas, lebih daripada} eme {-Ku} ouk {tidak} estin {ia adalah} mou {-Ku} axios {layak} kai {dan} ho {yang} philôn {mengasihi} huion {anak laki-laki} hê thugatera {anak perempuan} huper {diatas, lebih daripada} eme {-Ku} ouk {tidak} estin {ia adalah} mou {-Ku} axios {layak}

10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.
10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.


Dalam Matius ini kata-katanya diikuti dengan perkataan mengenai memikul salib dan mengikut Yesus. Hubungan dua perkataan ini ialah bahwa menempatkan keluarga dalam tempat kedua setelah Kerajaan Allah adalah salah satu cara untuk memikul salib.

Kita bandingkan lagi dengan ayat ini :


* Markus 10:29-30
10:29 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena iperempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
10:30 orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.


Apakah ini tidak berarti meninggalkan tanggung jawab yang normal? Misalnya siapa yang mengurus keluarga Petrus ketika ia menjadi murid Tuhan Yesus? Alkitab tidak mencatatnya. Namun yang jelas istrinya tidak terlantar, dan kasih sayangnya pun tidak memudar, karena dalam 25 tahun kemudian Perjanjian Baru mencatat bahwa ia biasa membawa serta istrinya dalam perjalanan-perjalanan pengabaran Injilnya (1 Korintus 9:5).

Kemudian dalam masa Perjanjian Baru, saat hidup berkeluarga diakui sebagai norma orang Kristiani. Diketengahkan bahwa 'jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak-saudranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman' (1 Timotius 5:8 )

Tidak ada bukti dalam kitab-kitab Injil bahwa ini bertentangan dengan ajaran Tuhan Yesus. Tetapi ini tidak memerlukan penekanan dariNya, karena kalau orang, pria dan wanita,s ebisa-bisanya mencukupi orang-orang yang paling dekat dan paling dikasihinya. Penekanan Tuhan Yesus adalah pada perlunya memperlakukan Kerajaan Allah sebagai lebih dekat dan lebih terkasih. Karena penolakan yang biasa timbul pada pendengarNya untuk menerima kebutuhan ini dengan keseriusan yang tak dapat ditawar-tawar, Ia menegaskannya dalam perintahNya dengan kata-kata yang paling dapat menarik perhatian dan yang paling menantang.

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 127-130.
www.sarapanpagi.com

Melemparkan Api ke Bumi

Ucapan Yesus Yang Sulit, 30-31:

Lukas 12:49-53 Yesus membawa pemisahan
12:49 LAI TB, "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!
KJV, I am come to send fire on the earth; and what will I, if it be already kindled?
TR, πυρ ηλθον βαλειν εις την γην και τι θελω ει ηδη ανηφθη
Translit interlinear, pur {api} êlthon {Aku datang} balein {untuk melemparkan} eis {dalam} tên gên {bumi} kai {dan} ti {betapa} thelô {Aku menginginkan} ei {jika} êdê {sudah} anêphthê {(itu) dinyalakan}

12:50 LAI TB, Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
KJV, But I have a baptism to be baptized with; and how am I straitened till it be accomplished!
TR, βαπτισμα δε εχω βαπτισθηναι και πως συνεχομαι εως ου τελεσθη
Translit interlinear, baptisma {(dengan) suatu baptis} de {lalu} ekhô {Aku harus} baptisthênai {dibaptis} kai {dan} pôs {betapa} sunekhomai {Aku disusahkan} heôs ou {sampai} telesthê {(itu) telah dilaksanakan}

12:51 Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.
12:52 Karena mulai dari sekarang akan ada pertentangan antara lima orang di dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga.
12:53 Mereka akan saling bertentangan, ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya, ibu melawan anaknya perempuan, dan anak perempuan melawan ibunya, ibu mertua melawan menantunya perempuan dan menantu perempuan melawan ibu mertuanya."


Lukas 12:49 kalau dibaca 'sendirian' memang sulit untuk dimengerti, tetapi kalai kita membaca satu perikop kita akan bisa mengambil maksudnya. Ayat ini adalah kata pembuka untuk ayat 51-53. Sebab itu gambaran api yang bersangkut paut dengan krisis, pemisahan, penderitaan, hukuman (note : kata "krisis" berasal dari kata Yunani κρισις - krisis yang berarti : memisah, mengadiri, menghukum, dsb). Dan dalam hal ini merujuk pada mulai dengan datangnya Yesus Kristus ke dunia (lihat ayat 52) sampai dengan sekarang.

Jadi Tuhan Yesus berkata dalam ayat 49a "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi" atau "untuk menyalakan/ memasang api di bumi" (pemakaian kata 'melemparkan' itu oleh orang Yahudi adalah agak netral dan kata itu juga misalnya dalam Matius 10:34 untuk ungkapan membawa damai). Maksudnya dapat diterangkan sebagai berikut: muncullah Tuhan Yesus di bumi ini, perkataan-Nya, menimbulkan suatu krisis, yang memaksa manusia mengambil suatu keputusan; dan sebagai akibat keputusan itu akan terjadi perlawanan dan perselisihan seperti yang menyusul dalam ayat 51-53.

Kemudian dalam ayat 49b, adalah siatu seruan yang menurut bentuknya adalah sejajar dengan ayat 50b. Ayat 49b "betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!" atau bisa diambil pengertiannya : "alangkah baiknya, kalau api itu sudah menyala!". Pada azasnya "api" itu telah terdapat di bumi sejak munculnya Tuhan Yesus di bumi; nanti nyala api itu akan berkobar, apabila Tuhan Yesus disalibkan; dan "krisis" yang akan datang, apabila kelak hukuman dari Allah akan dilaksanakan. Dengan perkataan lain : juga berkenaan dengan hukuman Allah itu berlaku apa yang sering dikatakan tentang Kerajaan Allah, yakni bahwa hal itu sedang merupakan kenyataan yang tersembunyi di dunia ini dan sekali kelak akan menjadi nyata (bandingkan pendahuluan dalam Lukas 12:35-48 ). Sebab itu Tuhan Yesus dapat berkata bahwa Ia harapkan supaya hukuman itu menjadi kentara dan dijalankan terang-terangan. Sebab itulah syarat untuk perealisasian/ perwujudan Kerajaan Allah secara terang-terangan.

Realisasi Kerajaan Allah itu tidaklah lepas dari apa yang akan dilakukan dan dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. Sebab itu ayat 50 cocok bersambungan dengan ayat 49.

Dalam ayat 50 itu dibicarakan tentang baptisan yang akan diperoleh/dialami Yesus. Berdasarkan Markus 10:38-39 dst kita bisa menyimpulkan bahwa dengan gambaran "baptisan" itu dimaksudkan penderitaan dan kematian Yesus.


* Markus 10:38-39
10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?"
10:39 Jawab mereka: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima.


Jadi Lukas 12:50 mengingatkan kita lagi kepada kenyataan bahwa Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan ke Yerusalem (lihat Lukas 9:51). Pada permulaan pekerjaanNya Ia dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis/ Nabi Yahya (Lukas 3:21), pada akhir pekerjaanNya itu Ia akan "dibaptiskan" (artinya: dibenamkan) kedalam penderitaan dan kematian. Keluhan Tuhan Yesus pada ayat 50b dapat dimengerti sbb : "Betapa remuk hatiKu dan betapa Aku merindukan saat dimana semuanya sudah lewat dan genap" (bandingkan dengan Lukas 22:42-44 dan Yohanes 19:30). Sebab melalui jalan itu akan dilaksanakan rencana Allah.

Jadi, ayat 49-50 dapat diringkas sebagai berikut : rencana Allah itu – dimana disatukan penderitaan dan kematian dan pemuliaan Yesus Kristus, demikian juga pembenaran dan penghukuman manusia, dan nyatanya Kerajaan Allah – semuanya itu di satu pihak dapat dikatakan bahwa Ia merindukan masa depan itu, dan dilain pihak hati-Nya gelisah memikirkan apa yang akan terjadi.

Lukas 12:51-53 Sunggulah benar bahwa kedatangan Tuhan Yesus mengandung keselamatan dan damai, sebab Ia telah membuat zaman keselamatan tiba, sehingga manusia sekarang dapat hidup dalam hubungan yang baik dan benar terhadap Allah dan terhadap sesamanya. Tapi kselamatan dan damai itu bukanlah keselamatan duniawi dalam suatu kerajaan duniawi. Sebaliknya Tuhan Yesus memaksa manusia mengambil keputusan : Menerima Yesus atau menolakNya.

Dalam pada itu akan digenapi apa yang terdapat dalam Lukas 2:34-35 : Penerimaan Yesus Kristus dan penolakanNya akan menyebabkan pemisahan, bahkan pertentangan-pertentangan di kalangan anggota-anggota satu kaum keluarga (bandingkan dengan Mikha 7:6)

Dalam ayat 51-53 ini dikatakan bahwa lima orang akan bertentangan dalam satu rumah, yakni "tiga melawan dua dan dua melawan tiga", artinya ayah serta ibu dari satu pihak melawan anak laki-laki dan akan perempuand an istri anak laki-laki itu di pihak yang lain (jadi dalam ayat 53 tidak disebutkan enam orang, tetapi lima; sebab "ibu mertua" dan "ibu" adalah orang yang sama). Tentu saja tidaklah dimaksudkan bahwa penerimaan atau penolakan Kristus adalah berbarengan denga perbedaan antara kedua angkatan itu; perselisihan dan pertentangan hanya dilukiskan menurut pola pertentangan antara kedua angkatan. Yudaisme adalah merupakan agama keluarga dimana para penganutnya beribadah menurut kesatuan rumah-tangga dan bukan perseorangan. Tuhan Yesus sudah melihat sebelumnya bahwa pernyataan-pernyataanNya akan memisahkan keluarga dan akan mengharuskan dibuatnya keputusan pribadi.

Dengan demikian Tuhan Yesus membuat jelas kepada murid-muridNya bahwa kedatanganNya ke bumi adalah permulaan suatu zaman krisis; tidaklah mungkin untuk tetap tinggal netral (bandingkan dengan Lukas 11:23); saat genting bagi manusia sudah tiba untuk mengambil satu keputusan; dan akibatnya kelak adalah pertentangan dan perselisihan. Serangan-serangan yang menyebabkan kematianNya (ayat 50) tidak akan berhenti di waktu kematianNya, tetapi akan berjalan terus dan mengenai juga pengikut-pengikutNya (ayat 51-53; perhatikan bahwa perkataan ini terdapat juga dalam matius 10:34-36, yaitu berhubungan dengan pengutusan kedua-belas murid itu!).

Sumber :
- FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 131-140.
- BJ Boland, Injil Lukas, 327-330.
www.sarapanpagi.com

Senin, 01 Maret 2010

Kamu Tidak Akan Selesai Mengunjungi Kota-kota Israel

Ucapan Yesus Yang Sulit, 25 :

Matius 10:5-15, 16-23

10:5 Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,
10:6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.
10:8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.
10:9 Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.
10:10 Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.
10:11 Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.
10:12 Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.
10:13 Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
10:14 Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.
10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu."

10:16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
10:17 Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.
10:18 Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.
10:19 Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
10:20 Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.
10:21 Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.
10:22 Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
10:23 Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.


Ini adalah pengutusan Yesus kepada 12 orang muridNya, ketika ia mengutus mereka pergi berdua-dua. Pengutusan kepada 12 murid, sebagaimana disebut dalam matius 10:5-15, 6-23 mempunyai 2 bagian, masing-masing dengan sudut pandangnya sendiri-sendiri :
- Bagian yang pertama (ayat 5-15) berkenaan dengan situasi yang s egera terjadi dalam konteks pelayanan Tuhan Yesus di Galilea.
- Bagian yang kedua (ayat 16-23) menggambarkan masa yang akan datang, ketika para rasul terlibat dalam pelayanan yang lebih luas, pelayanan pada masa antara Kebangngkita Tuhan Yesus dan dicurahkannya Roh Kudus.

Pada bagian ke-2 ini, perhatikan peringatan : "Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya.Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah" (Matius 10:18 ). Bagian ini menunjukkan suatu kontras dengan apa yang tersebut dalam ayat 5, dimana orang-orang kafir (non Yahudi) tidak termasuk dalam tujuan penginjilan yang pertama. Peringatan yang baru saja dikutip mempunyai kemiripan dengan apa yang dicatat oleh Markus 13:9-10, dimana situasinya mengarah kepada kehancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi dan seterusnya.


* Markus 13:9-10
13:9 Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.
13:10 Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa.


Dalam kedua perikop, peringatan itu diikuti oleh keyakinan bahwa bila para murid menghadapi pencobaan dan diminta untuk menyaksikan iman mereka, Roh Kudus akan mengaruniakan kata-kata yang tepat. Perikop yang sejalan dalam Injil Markus mempunyai pernyataan yang sama, yaitu meskipun perlu penjelasan yang lebih eksplisit tentang penginjilan terhadap orang orang kafir (non Yahudi) sebagaimana terhadap orang-orang Yahudi; sebelum masanya berakhiir "Injil harus diberitakan dulu kepada semua bangsa" (Markus 13:10). Pernyataan ini juga dicatat dalam bentuk yang lebih jelas dalam Matius 24:14 "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya". Paulus, dalam sudut pandangnya, menyatakan harapan yang sama kerika ia menyatakan ekselamatan "seluruh Israel" sebagai kelanjutan bila jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain yang telah masuk, menjadi sempurna pada saat "Penebus akan datang dari Zion" (Roma 11:25-27).


Pada bagian kedua dari pengutusan dalam Matius pasal 10 ini, disimpulkan dalam ayat 23 : "Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang".

Kalau begitu apakah artinya pernyataan itu dalam konteks ini?

Artinya sederhana saja, yaitu penginjilan bagi Israel tidak akan selesai sebelum akhir zaman ini, yang tiba dengan kedatangan Anak Manusia. Kita tahu bahwa sampai sekarangpun sebagian besar orang Israel masih menolak Tuhan Yesus sebagai Kristus. Mereka masih menanti-nantikan Mesias/ Kristus (yang lain) hal ini cukup menjadi tanda bahwa penginjilan bagi Israel memang belum selesai.

Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 110 – 113
www.sarapanpagi.com

Jumat, 26 Februari 2010

Dosa Terhadap Roh Kudus

Ucapan Yesus Yang Sulit, 21 :

Markus 3:22-29
3:22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan."
3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?
3:24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan,
3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.
3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.
3:27 Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.
3:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.
3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal." 3:30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.



Markus mencatat para ahli Taurat atau ahli dalam hukum Yahudi datang dari Yerusalem ke Galilea untuk menilai pekerjaan yang dilakukan Tuhan Yesus disana, seperti apa yang mereka dengar, terutama pelayananNya dalam mengusir setan. Namun para ahli Taurat membuat kesimpulan aneh : "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan." (Markus 3:22).
(Beelzebul adalah nama dewa orang Kanaan yang berarti "Tuhan dari tempat yang tinggi", tapi disini digunakan orang-orang Yahudi untuk menunjukkan penguasa neraka, tempat kediaman setan-setan). Ketika Tuhan Yesus mengetahui hal itu, Ia mengungkapkan kemustahilan anggapan bahwa kuasa setan dapat diusir dengan pertolongan setan pula. Seanjutnya Yesus mengatakan bahwa orang yang menyimpulkan hal itu sebagai menghujat Roh Kudus. Mengapa? Karena dengan sengaja mereka menganggap kegiatan Roh Kudus berasal dari setan.

Setiap macam dosa, setiap bentuk hujat atau umpat secara tersirat dinyatakan dapat diampuni bila dosa-dosa itu disesali. Tapi bagaimana jika seseorang harus menyesali hujatannya terhadap Roh Kudus? Apakah tidak ada pengampunan bagi mereka yang menyesali dosa itu?

Jawabannya, sifat dasar dari dosa ini, yaitu orang yang melakukannya tidak tahu bahwa mereka berbuat dosa. Markus menceritakan pada para pembacanya mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa para ahli Taurat itu menghujat Roh Kudus; karena mereka telah mengatakan "Ia kerasukan roh jahat" (Markus 3:30). Jadi, pada waktu Yesus memperingatakan tentang dosa yang tidak dapat diampuni, konteksnya adalah "tuduhan padaNya yang bekerjasama dengan Setan". Peringatan-Nya itu merupakan peringatan yang serius dan sangat menakutkan.

Yesus ketika itu sedang menyatakan Hukum Kerajaan Allah, dan kesembuhan bagi yang sakit, yang dikuasai roh jahat dan ini merupakan tanda bahw hukum Kerajaan Allah hadir dan aktif dalam pelayananNya. "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu." (Matius 12:28, lihat juga di Lukas 11:20).

Bila ada orang yang memandang kesembuhan yang Dia lakukan terhadap tubuh dan jiwa manusia, tapi tetap bertahan pada pendirian bahwa Ia melakukan semua itu dengan bantuan setan, maka mata mereka tertutup erat-erat terhadap terang; bagi mereka terang telah berubah menjadi kegelapan dan yang baik telah menjadi jahat. Terrang tersedia bagi mereka yang mau menerimanya, namun bila ada yang menolak terang itu, dari mana lagi mereka dapat berharap memperoleh penerangan?

Apakah Paulus berdosa melawan Roh Kudus pada waktu ia menganiaya orag-orang Kristen dan bahkan (menurut Kisah 26:11) memaksa mereka menyangkal imannya? Jelas tidak, karena sebagaimana dalam 1 Timotius 1:13 ia menulis "... karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman". Ia melakukannya "tanpa pengetahuan", karena itu Paulus telah mendapat belas kasihan. Namun bila ia telah melihat terang dalam perjalanannya ke Damsyik dan telah mendengar panggilan Tuhan yang telah bangkit, ia tetap menutup mata dan telinga serta tetap melakukan penganiayaan, maka itu merupakan "dosa kekal".
Dan contoh lain bisa kita lihat bahwa ketika Tuhan Yesus diatas kayu salib, Ia berdoa mohon pengampunan untuk orang-orang yang telah menghujat-Nya atas dasar ketidaktahuan mereka: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).

Maka pengertiannya : Pada saat seseorang telah diterangi oleh Roh Kudus sampai tahap dia dapat mengetahui bahwa Yesus sebagai benar-benar Kristus, dan kemudian orang itu menuduh Kristus berasal dari Setan, maka orang itu telah melakukan dosa yang tidak dapat diampuni.

Orang Kristen yang tulus dan merasa takut telah melakukan dosa yang semacam itu, menunjukkan bahwa dia sebenarnya tidak melakukan dosa itu. Orang yang telah melakukan dosa yang semacam itu, hatinya sangat keras dan tetap tinggal dalam dosa mereka dan tidak merasa bersalah pada waktu melakukannya.

Sebenarnya, di dalam kebudayaan dimana orang-orang tidak mau mengakui kedaulatan Allah di dalam hidup, orang-orang tetap enggan untuk terlalu jauh atau keterlaluan pada waktu mereka menghujat Allah dan Kristus. Meskipun Nama Kristus telah dipakai seenaknya dan injil dilecehkan dengan humor-humor dan komentar-komentar yang tidak pantas, orang-orang tetap tidak berani untuk mengaitkan Yesus dengan Setan. Meskipun okultisme dan setanisme memberikan kemungkinan yang berbahaya bagi seseorang untuk melakukan dosa yang tidak dapat diampuni itu, pada kasus seseorang menghujat Roh Kudus oleh karena ketidaktahuannya dan dia belum diterangi oleh Roh Kudus, maka dosa itu masih dapat diampuni.


Sumber :
- FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 88.
- R.C. SPROUL, Kebenaran-kebenaran DASAR IMAN KRISTEN Bab 54 p. 203-205

Kamis, 25 Februari 2010

Apabila Kamu Tidak Mengampuni Sesamamu

Ucapan Yesus Yang Sulit, 18 :

Matius 18:21-35 Perumpamaan tentang pengampunan
18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."


Ini adalah perkataan yang keras. Kata 'maka' yang mengawalinya mengacu pada hukuman yang mengerikan yang dijatuhkan raja dalam sebuah perumpamaan kepada seorang hambanya yang tidak mau mengampuni. Perumpamaan ini diberikan setelah percakapan antara Tuhan Yesus dan Petrus.
Tuhan Yesus berulang-ulang menekankan kepada murid-muridNya perlunya seseorang untuk mengampuni : merek tidak boleh menyimpan dendam, tetapi dengan lapang dada mereka harus mengampuni orang-orang yang menyakiti mereka. 'Ya', tetapi sampai berapa kali? Petrus bertanya 'Sampai tujuh kali?'? Dan mungkin ia berpikir bahwa itulah batas kesabaran yang masuk akal. 'Bukan sampai tujuh kali' kata Tuhan Yesus, 'melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali' (Matius 18:21-22). Mungkin saat seorang berhasil mengampuni sampai tujuh-puluh kali tujuh kali, pengampunan telah mendarah daging dalam dirinya.

Beberapa komentator melihat disini sebuah sindiran terhadap nyanyian Lamekh dalam :


* Kejadian 4:24
sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat."


Lamekh adalah keturunan Kain yang (dengan mengejutkan) berada di bawah perlindungan Allah. 'Barangsiapa yang membunuh Kain', kata Allah, 'akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat'. Lamekh membual dalam nyanyian perangnya bahwa tidak seorangpun bisa melukai dia tanpa menerima pembalasan. "Jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat." atau barangkali 'tujuhpuluh kali tujuh kali'). Sebagai imbangan dari pembalasan yang tujuhpuluh kali tujuh kali itu, maka Tuhan Yesus memberi target kepada pengikutNya : tujuhpuluh kali tujuh kali pengampunan.

Ini adalah berita pengampunan : tidak bisa menjadi sebaliknya, sebab itu adalah Injil Allah. Dan Allah adalah Allah yang mengampuni. 'Siapakah Allah yang seperti Engkau yang mengampuni dosa" kata seorang nabi Ibrani (Mikha 7:18 ). 'Aku tahu kata seorang yang lain (yang menolak kecenderungan hati Allah untuk mengampuni orang-orang yang menurut pertimbangannya tidak patut menerima pengampunan). "bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya" (Yunus 4:2). Jadi, patutlah diharapkan bahwa dalam Injil, mereka yang menyebutNya sebagai Bapa mereka, memperagakan sedikit dari sifatNya dan mem[erhatikan sikap penuh pengampunan terhadap orang lain. Bila mereka tidak melakukan itu, lalu bagaimana?

Lalu bagaimana? Tuhan Yesus menjawab ini dalam perumpamaan seorang hamba yang tak mau mengampuni yang ia mengkisahkan untuk menguatkan jawabanNya kepada Petrus mengenai pengampunan yang berulang-ulang 'sampai tujuhpuluh kali tujuh kali'. Seorang Raja, kata Tuhan Yesus, memutuskan untuk membuat perhitungan dengan hamba-hambanya dan ia mendapatkan bahwa salah seorang diantaranya (yang kira-kira adalah pejabat tinggi) telah berhutang kepada bendahara raja sampai berjuta-juta. Raja hendak bertindak atas orang itu seperti yang biasa dilakukan oleh seorang penguasa di Timur. Saat itulah orang itu sujud menyembah raja, memohon pengampunan dan berjanji bahwa bila raja bersabar terhadap dia, ia akan melunasi hutangnya. Raja tahu dengan jelas bahwa orang itu tak sanggup melunasi hutang-hutangnya yang sedemikian besar, tetapi ia berbelas kasihan atas orang itu dan menghapuskan hutangnya.

Kemudian orang itu mempunyai teman yang berhutang kepadanya, beberapa ribu saja, dan ia langsung menuntut agar hutang temannya itu dibayar. Si penghutang memohon waktu untuk membayar, ia menolaknya mentah-mentah dan memasukkannya dalam penjara.

Sang Raja mendengar akan hal itu dan memanggil kembali orang yang pernah diampuninya supaya menghadap dia. Dan Raja itu membatalkan pengampunannya dan memperlakukan orang itu seperti orang itu memperlakukan temannya yang berhutang. Dan marahlah raja itu, ia menyerahkan orang itu kepada algojo-algojo, dan menghukum orang itu. Jadi, kata Tuhan Yesus, 'dengan cara seperti itulah Bapamu di Surga akan memperlakukan siapapun diantara kalian yang tidak mengampuni saudaramu laki-laki (atau perempuan) dengan seluruh hatimu'.

Membatalkan pengampunan yang sudah diberikan? Ini adalah perkataan yang sungguh keras. Namun penekanannya jelas kita ketahui bahwa mengampuni mendapat tempat yang sentral dalam pengajaran Tuhan Yesus. Hal itu ternyata dari fakta bahwa ajaran itu termasuk juga dalam ajaran Doa Bapa Kami kepada murid-muridNya: "ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kam" (Lukas 11:4).
Sukar sekali untuk percaya bahwa seorang dengan sengaja bisa mengucapkan doa ini padahal kita tahu bahwa pada saat yang sama ia menyimpan dendam terhadap orang lain.

Dalam tradisi Yahudi, kata "dosa' itu adalah 'hutang'. Dalam bahasa Aram yang dipakai untuk 'dosa' sama dengan kata 'hutang' (lihat versi terjemahan The Aramaic New Covenant dan KJV dibawah ).
Karena itu 'setiap orang yang bersalah (berhutang) kepada kami' berarti setiap orang yang berdosa kepada kami[/i]'. Dalam Matius 6:12 penggunaan kata 'hutang' dalam arti 'dosa' muncul dua kali :


* Matius 6:12
dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
KJV, And forgive us our debts, as we forgive our debtors.
The Aramaic New Covenant, and forgive us our debts as we also forgive our debtors:
TR, και αφες ημιν τα οφειληματα ημων ως και ημεις αφιεμεν τοις οφειλεταις ημων
Translit interlinear, kai {dan} aphes {ampunilah} hêmin {kami} ta opheilêmata {akan kesalahan (hutang) } hêmôn {kami} hôs {seperti} kai {juga} hêmeis {kami} aphiemen {sudah mengampuni} tois {orang-orag} opheiletais {yang bersalah (berhutang)} hêmôn {(kepada) kami}


Ampunilah kami akan kesalahan (hutang) kami, seperti kami mengampuni orang yang bersalah (berhutang) kepada kami. Artinya 'ampunilah akan dosa kami seperti kami mengampuni orang yang berdosa kepada kami'.
Kalimatnya menunjukkan bahwa orang yang berdoa telah mengampuni luka apapun yang ia terima. Kalau tidak, tidak mungkin ia bisa tulus memohon pengampunan Allah atas dosa-dosanya sendiri.

Kita lihat Versi Markus dari Doa Bapa Kami ini, ajaran ini ditekankan kembali :


* Markus 11:25,26
11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."
11:26 Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

Kita lihat lahi dalam Matius :

* Matius 6:14-15
6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.
6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."


Arti semua ini sangat jelas, dan tidaklah bijaksana untuk menghindar dari tantangan yang tidak enak itu. Sebuah terbutan terkenal yang berisi keterangan-keterangan tentang Alkitab, memberi tanggapan terhadap klausa "seperti kami mengampuni orang yang bersalah (berhutang) kepada kami" sebagai berikut :
"ini hal yang sah menurut hukum. Bandingkan dengan Efesus 4:32 yang adalah kasih karunia. Dibawah hukum Taurat, mengampuni dibatasi oleh roh yang sama di dalam kita; di bawah kasih karunia kita diampuni karena Kristus dan mendorong kita untuk mengampuni, sebab kita telah diampuni"

Tetapi pengampunan tidak diberikan maupun diterima berdasarkan 'hukum'. Hal ini terjadi selalu karena kasih karunia. Apa yang dikatakan Paulus dalam adalah sbb :


* Efesus 4:32
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.


Tetapi bila beberapa diantara orang-orang yang menerima perintah itu (dan perintah itu diberikan kepada semua orang Kristen segala zaman) tetap mempertahankan sikap yang tidak mau mengampuni kepada orang lain, dapatkah mereka tetap menikmati kepastian pengampunan Allah? Bila ajaran Tuhan Yesus berarti seperti yang tertulis, maka mereka tidak dapat.

Tuhan Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan lain menganai dua orang yang berhutang untuk menjelaskan aspek lain dari pengampunan. Itu terjadi di rumah Simon, seorang Farisi yang menolak untuk menunjukkan sikap hormat yang biasa diperagakan kepada seorang tamu, sedangkan wanita yang menerobos masuk dari jalan mencurahkan rasa syukur dan kasihnya kepada Tuhan Yesus dengan membasahi kaki Tuhan Yesus dengan air matanya (Lukas 7:36-50).
Arti dari perumpamaan itu ialah bahwa seseorang yang telah diampuni sejumlah besar hutangnya, akan memberikan tanggapan dengan kasih yang besar; sebaliknya tidak ada tanggapan yang besar yang bisa diberikan seseorang yang merasa sedikit diampuni (Orang bisa menolak, bahwa orang yang telah diampuni hutangnya yang besar dalam perumpamaan di Matius 18:23-35) telah menunjukkan sedikit kasih sebagai balasannya.

Tetapi kedua perumpamaan itu ditujukan kepada 2 situasi yang berbeda, dan pengampunan serta kasih tidak tunduk pada patok mati dari kebutuhan yang tak dapat dihindari. Dimana ada tanggapan dengan kasih yang tulus, disana ada roh pengampunan; dan dimana ada roh pengampunan, disana ada ada penghargaan yang besar atas kemurahan pengampunan Allah, dan akibatnya ialah kasih yang lebih besar lagi.

Beberapa penafsir mendapat eksulitan dengan kata-kata Tuhan Yesus mengenai perempuan itu. "Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab itu ia banyak berbuat kasih". Logika dari perumpamaan ini adalah : 'Ia banyak mengasihi sebab dosa-dosanya diampuni'. Tetapi bila memang benar itu artinya, demikianlah yang akan kita katakan :
"Kasih dan Pengampunan mengakibatkan reaksi yang berantai : Makin banyak pengampunan, makin banyak kasih; makin banyak kasih, makin banyak pengampunan"


Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 74-78
www.srapanpagi.com

Selasa, 23 Februari 2010

Jangan Bersumpah Sama Sekali

Ucapan Yesus Yang Sulit, 14 :

Matius 5:33-37
5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.


Sumpah palsu merupakan pelanggaran yang serius dalam setiap kode hukum. Demikian halnya dalam Hukum Taurat, sumpah palsu dilarang :


* Keluaran 20:7,16
20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
Hebrew, לא תשא את שם יהוה אלהיך לשוא כי לא ינקה יהוה את אשר ישא את שמו לשוא׃
Translit, LO' TISA' 'ET-SHEM-YEHOVAH 'ELOHEYKHA LASHAV' KI LO' YENAKEH YEHOVAH 'ÊT 'ASHER-YISA' 'ET-SHEMO LASHÂV'

20:16 Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Hebrew, לא תענה ברעך עד שקר׃
Translit, LO'-TA'ANEH VERE'AKHA 'ED SHAKER


Mengucapkan sumpah palsu dalam nama Allah adalah dosa bukan saja terhadap nama itu, tetapi termasuk berdosa terhadap pribadi Allah sendiri.
Untuk selanjutnya, jangkauan hukum ini diperluas dengan memasukkan setiap penggunaan nama ilahi secara remeh atau sembarangan, sampai-sampai dalam tradisi Yahudi diputuskan bahwa cara yang paling aman adalah tidak menyebut namaNya sama sekali. Itulah sebabnya nama Allah Israel "YHVH" tidak pernah dieja sama sekali, dan mereka menggantinya dengan menyebut "ADONAI". Kebiasaan ini dimaksudkan sebagai bentuk pencegahan "menyebut nama TUHAN (YHVH) dengan sembarangan".

Yesus Kristus berkata "Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan (Matius 5:33). Menyadari keseriusan sumpah demi nama Allah apabila kebenaran kalimat itu tidak mutlak kepastiannya, yang bertendensi menggantikan nama Allah dengan yang lain (ayat 34) misalnya Langit/ Surga, ataupun bentuk bentuk lain (demi kota, demi kepala, ayat 35-36) dengan pemikiran bahwa kalau-kalau sumpahnya itu palsu akan sedikit lebih diampuni, itupun tidak diperkenankan oleh Yesus.

Dari perikop lain dari Injil ini (Matius 23:16-22), dapat dikumpulkan adanya beberapa ketentuan bahwa ada sumpah-sumpah yang lebih mengikat atau kurang mengikat disesuaikan dengan persisnya kata-kata sumpah yang diucapkan. Tentunya hal ini merupakan masalah etis yang tidak begitu berarti.

Satu hal yang perlu diketahui, bahwa orang dilarang bersumpah palsu, baik dalam nama Allah maupun bentuk kata-kata lainnya. "Bayarlah apa yang engkau sumpahkan". Pengkhotbah mengatakan demikian :


* Pengkhotbah 5:3-5
5:3 Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. 5:4 Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.
5:5 Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?


Jelas sekali dalam Matius 5:37 Yesus berkata "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat". Yesus merekomendasikan standard yang lebih tinggi kepada murid-muridNya bahwa mereka harus berkata ya kalau ya, dan tidak kalau tidak.
Gema perkataan ini terdengar lagi dalam bagian PB lainnya :


* Yakobus 5:12
Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman.


Pengikut-pengikut kristus harus dikenal sebagai pelaku perkataan mereka, baik pria maupun wanita. Apabila mereka dikenal sebagai orang-orang yang mempunyai perhatian khusus yang teliti terhadap kebenaran , maka segala yang mereka katakan akan dipercaya walau tanpa sumpah sekalipun. Ini bukan sekedar teori; ini merupakan kenyataan dalam pengalaman.
Reputasi seseorang dalam kejujuran itulah yang diajarkan Yesus, sehingga murid-muridNya karena reputasinya orang mempercayai bahwa kata-katanya selalu berdasarkan fakta yang benar, mengatakan ya karena ya, dan mengatakan tidak karena tidak. Jikalau seseorang sudah dikenal kejujurannya, siapapun tak akan menuntut suatu sumpah darinya.


Sumber :
FF Bruce, Ucapan Yesus yang Sulit, SAAT Malang, p 59-61.
www.sarapanpagi.com

MENGASIHI MUSUH

"Kamu telah mendenqar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bani mereka yann mennaniaya kamu." (Matius 5:43-44)


Mengasihi musuh? Mengasihi orang yang baik-baik saja susah, kok harus mengasihi musuh. Omong saja sih gampang. Gak usah muluk-muluklah. Itu terlalu dilebih-lebihkan dan idealisme saja.

Bukan begitu, Kawan! Kesempurnaan memang bukan karya manusia semata-mata. Mengandalkan kekuatan manusia saja, jelas kita tidak mungkin akan menggapainya. Dibutuhkan campur tangan Allah. Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Yesus pun tidak pernah mengundang orang untuk mengejar sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Lagipula Yesus bukan hanya mengajar, tetapi sudah lebih dahulu mewujudkan yang diajarkan-Nya.


Melihat Konteks, Matius 5:43-48, Lukas 6:27-28, 32-36 :


* Matius 5:43-48
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."


* Lukas 6:27-28, 32-36
6:27 "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu;
6:28 mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.
6:32 Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka.
6:33 Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.
6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.
6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."


Kasihilah sesamamu manusia. Hukum kasih mi ada dalam konteks bangsa Israel yang hanya menganggap orang-orang sebangsanya saja adalah sesamanya. Dalam Perjanjian Lama tertulis: "Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Imamat 19:18).

Bangsa-bangsa lain bukanlah sesama, sehingga harus dibenci. Dalam Ulangan 7:2 malah dikatakan: "TUHAN, Allahmu, telah menyerahkan mereka kepadamu, sehingga engkau memukul mereka kalah, maka haruslah kamu menumpas mereka sama sekali. Janganlah engkau mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah engkau mengasihani mereka."

Pemazmur pun mengatakan: "Masakan aku tidak membenci orang-orang yang menbenci Engkau,ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orana yang bangkit melawan Engkau? Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku" (Mazmur 139:21-22). Kebencian itu salah satunya dikarenakan bahaya kemurtadan dan penyembahan berhala bila bergaul dengan mereka. Karena itu bagi bangsa Israel yang dianggap sesama hanyalah orang-orang sebangsanya. Bangsa-bangsa lain adalah musuh-musuhnya.

Yesus menolak pandangan tentang sesama yang eksklusif itu dan mengatakan: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." Nasihat ini sebenarnya juga telah tertuang dalam Perjanjian Lama: "Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir" (Imamat 19:34 badingkan Keluaran 23:4-5; Amsal 25: 21). Bagi orang -orang Yahudi, musuh adalah orang yang tidak sebangsa dengannya, terutama orang kafir yang tidak mengakui Allah. Mengasihi musuh berarti mengasihi orang-orang asing yang tidak sebangsa.

Dalam bahasa Yunani ada empat kata yang artinya sama-sama mengasihi, tetapi dalam lingkup yang berbeda. Kata benda στοργη - STORGÊ dengan kata kerjanya STERGEIN berarti "kasih mesra dari orang tua kepada anaknya dan sebaliknya". Kata EROS dari kata Yunani, yang kita terjemahkan EROS/ EROTIK, artinya "kasih asmara antara pria dan wanita yang mengandung nafsu birahi". Kata benda φιλεω - PHILEÔ dengan kata kerjanya φιλειν - PHILEIN berarti "kasih sayang yang sejati antar sahabat dekat". Kata benda αγαπαω - AGAPAÔ dengan kata kerjanya αγαπαν - AGAPAN, yang kita terjemahkan AGAPE, artinya "kasih yang tanpa perhitungan apa pun dan tanpa peduli orang macam apa yang dikasihinya".


Kasih αγαπαω - AGAPAÔ itulah yang dimaksudkan Yesus. Kasih αγαπη - AGAPÊ tidak pernah buta terhadap kelemahan manusia, tetapi kelemahan itu tidak juga mampu memadamkan api cintanya. Kasih agape mendorong orang untuk membuang segala pikiran jahat terhadap orang lain dan memperlakukannya dengan kebajikan yang tak kenal batas demi kebaikan se mata. Kasih agape adalah tanpa pamrih dan sama sekali tidak memperhitungkan kelakuan orang itu, entah sikap, perkataan dan perbuatannya yang menghina, menyakiti dan menyusahkan. Kasih agape adalah keputusan dan ketetapan sikap secara sadar dan sengaja untuk memperlakukan orang, juga yang berbuat jahat, dengan kebajikan tak terbatas dan kehendak baik semata. Jadi, mengasihi musuh dengan kasih agεραν - ERANape merupakan hasil dari kemauan yang secara sadar dan sengaja, yang tidak bisa tidak kecuali mengasihi.


* Matius 5:43-44
5:43 LAI TB, Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
KJV, Ye have heard that it hath been said, Thou shalt love thy neighbour, and hate thine enemy.
TR, ηκουσατε οτι ερρεθη αγαπησεις τον πλησιον σου και μισησεις τον εχθρον σου
Translit Interlinear, êkousate {kau telah mendengar} hoti {bahwa} errethê {telah dikatakan} agapêseis {kasihilah} ton plêsion {sesama} sou {-mu} kai {tetapi} misêseis {bencilah} ton {orang yang} ekhthron {memusuhi} sou {-mu}

5:44 LAI TB, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
KJV, But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you;
TR, εγω δε λεγω υμιν αγαπατε τους εχθρους υμων ευλογειτε τους καταρωμενους υμας καλως ποιειτε τους μισουντας υμας και προσευχεσθε υπερ των επηρεαζοντων υμας και διωκοντων υμας
Translit Interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepadamu} agapate {kasihilah} tous {orang-orang} ekhthrous {yang menjadi musuh} humôn {-mu} eulogeite {berkatilah} tous {mereka yang} katarômenous {menghujat} humas {-mu} kalôs {baik} poieite {berbuat} tous {kepada mereka} misountas {yang membenci} humas {-mu} kai {dan} proseukhesthe {berdoalah} huper {bagi} tôn {orang-orang yang} epêreazontôn humas kai {dan} diôkontôn {menganiaya} humas {}kamu


Mengasihi musuh dengan kasih agape adalah hasil perjuangan dan kemenangan terhadap kecenderungan-kecenderungan naluriah untuk menolak yang tak disukai. Namun memperlakukan orang dengan kebajikan tak terbatas dan demi kebaikan semata sering malah harus menghukumnya untuk mendidik dan melindungi dari tindakan-tindakan yang membahayakannya. Jadi, hukuman itu bukan untuk memuaskan kemauan balas dendam, tetapi sebagai sarana untuk mendidik, menyembuhkan dan menjadikannya lebih baik. Karena itu mengasihi musuh dengan kasih agape sambil mendoakannya merupakan strategi untuk mengalahkan aneka bentuk penganiayaan, yang terutama dikarenakan agama. Bagi orang Kristen, musuh bukanlah orang yang tidak disukai karena merugikan, tetapi orang yang menganiaya pengikut-pengikut Kristus. Berdoa artinya memohon agar Allah memberkati dan menolong mereka. Mendoakan orang yang dibenci adalah cara yang dapat menghilangkan kebencian.

Penginjil Lukas menambahkan perkataan "berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu". Musuh akan selalu membenci dan mengutuk. Namun pengikut Yesus harus menunjukkan kebaikan bukan hanya kepada orang yang berkelakuan baik, tetapi juga orang yang membencinya. Bahkan para pengikut Yesus harus memberi berkat bagi yang mengutuk mereka. Mengapa para murid harus berbuat demikian? Pengikut Yesus harus memiliki kasih dengan kebajikan tak terbatas dan demi kebaikan semata, supaya menjadi serupa dengan Allah: "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang yang tidak benar" (Matius 5 :45).

Menjadi anak berarti menjadi serupa secara rohani dengan Bapa. Maka, kalau Bapa mengasihi dan menjamin kehidupan setiap orang lewat matahari dan hujan tanpa diskriminasi kepada siapa pun, demikian pula anak. Matahari mengacu pada benda terang di langit yang diciptakan Allah dan menjadi berkat bagi semua bangsa, entah apa agamanya, status sosialnya dan bagaimana moralitas kelakuannya. Orang benar adalah orang yang melakukan kehendak Allah, sebaliknya orang tidak benar adalah orang yang tidak peduli pada kehendak Allah. Sedangkan hujan, bagi daerah Palestina yang sering kekeringan, dipandang sebagai salah satu berkat istimewa dari Allah. Dengan demikian murid-murid Yesus harus "murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati" (Lukas 6:36).

Yesus memperjelas keserupaan dengan Allah itu secara retorik: "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?" (Matius 5:46). Dengan perkataan itu Yesus bukan mau mempersoalkan upah, tetapi mau menegaskan bahwa mengasihi orang yang membalas dengan kasih tidaklah sulit dan tidak mendatangkan pahala ilahi. Paling-paling yang diperoleh hanyalah pahala manusiawi, di mana kasihnya bertambah kuat. Kasih semacam itu tidak beda dengan yang dilakukan para pemungut cukai, yang dianggap sebagai kaum pendosa.

Para pemungut cukai adalah orang-orang Yahudi yang mendapatkan hak dari pemerintah Romawi untuk menagih bea cukai dari orang -orang sebangsanya. Jadi, mereka bekerja untuk penjajah, sehingga dianggap najis dan dibenci oleh bangsanya. Orang-orang itu juga mengasihi orang yang bersikap baik terhadap mereka, sehingga kasih seperti itu tidak pernah menjadi masalah bagi siapa pun.

Yesus melanjutkan: "Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah
orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?" (Matius 5:47). Bagi orang-orang Yahudi, salam bukan sekadar perbuatan yang biasa-biasa saja, tetapi sebagai ungkapan keinginan dan doa permohonan berkat, agar orang yang disalaminya benar-benar mengalami damai dan sejahtera. Kata saudara-saudaramu searti dengan sesamamu, yakni hanya orang-orang sebangsanya. Bangsa yang tidak mengenal Allah adalah bangsa kafir atau orang-orang asing. Bagi orang Yahudi, orang asing adalah orang bukan Yahudi, yang berarti orang yang tidak mengakui Allah yang diakui bangsa itu.

Penginjil Lukas juga mengetengahkan perbandingan retorik dengan berfokus pada orang -orang berdosa. "jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orangyang mengasihi mereka." Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak" (Lukas 6:32-34).

Orang-orang berdosa adalah mereka yang bermental do ut des, yaitu "saya memberi supaya kamu memberi". Mentalitas memberi untuk menerima itu akan membuat orang yang punya hanya memikirkan orang yang punya saja dan orang yang baik hanya memikirkan orang yang baik saja. Alhasil, mentalitas seperti itu hanya akan melahirkan kewajiban untuk balas jasa dan bukan budaya kasih. Karena itu Yesus berkata: "Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan detiqati tidak menaharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allab Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasib dan terhadap orang-orang jahat"(Lukas 6:35).

Dalam mengasihi sesama, termasuk musuh, Yesus mengajak agar para murid tidak berpatokan pada prinsip balas jasa. Mereka harus mengasihi tanpa perhitungan dan tidak mengharapkan balasan. Allahlah yang akan mengganjar orang yang berbuat baik karena kasih dan tanpa memperhitungkan balas jasa sesamanya. Kasih itulah yang menjadi tanda pengenal anak-anak Allah. Sebab Allah adalah baik dan murah hati terhadap semua orang, juga yang tidak tahu berterima kasih dan jahat sekalipun.


Bagi Yesus standar perbuatan etis dalam Kerajaan Allah adalah mencintai secara lebih radikal, termasuk para musuh. Ia menyimpulkan: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna" (Matius 5:48). Perkataan ini sejajar dengan Lukas 6:36 yang "mengganti" kata sempurna dengan "murah hati", Yunani οικτιρμων - OIKTIRMÔN : "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." Jadi, kesempurnaan Allah berkaitan dengan totalitas kasih-Nya, di mana Ia selalu setia pada perjanjian-N ya dan tiada hentinya terarah kepada manusia yang dikasihi-Nya. Ia mengasihi dengan kebajikan yang tak terbatas dan demi kebaikan manusia semata tanpa membedakan orang-orang yang benar dan orang-orang yang tidak benar. Karena itu manusia harus setia pada hukum-hukum-Nya dan memberikan diri sepenuhnya kepada Allah, agar menjadi sempurna.

Kata, Yunani τελειος - TELEIOS, yang sama dengan kata Ibrani תמים - TAMIM, merujuk pada "kesempurnaan dalam kebenaran etis". Nuh, Abraham, dan Daud disebut sempurna karena berlaku benar, tidak bercela dan suci hatinya (Kejadian 6:9; 17: 1; 2 Samuel 22:24-27). Ide itu selaras dengan firman TUHAN kepada Musa untuk bangsa Israel: "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus" (Imamat 19:2), yang diterjemahkan dalam Septuaginta (LXX): 'Jadilah sempurna di hadapan TUHAN, Allahmu" (Ulangan 18: 13). Kesempurnaan di sini berkaitan dengan pelaksanaan sepenuhnya hukum Musa, yang akan mendapat tafsir definitif dari Mesias sebagai kasih kepada Allah dan sesama, termasuk kepada musuh. Bagi penginjil Matius, menjadi sempurna berarti melakukan hukum kasih dengan sepenuhnya.


* Matius 5:48
LAI TB, Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."
KJV, Be ye therefore perfect, even as your Father which is in heaven is perfect.
TR, εσεσθε ουν υμεις τελειοι ωσπερ ο πατηρ υμων ο εν τοις ουρανοις τελειος εστιν
Translit, esesthe oun humeis teleioi hôsper ho patêr humôn ho en tois ouranois teleios estin


* Lukas 6:36
LAI TB, Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
KJV, Be ye therefore merciful, as your Father also is merciful.
TR, γινεσθε ουν οικτιρμονες καθως και ο πατηρ υμων οικτιρμων εστιν
Translit, ginesthe oun oiktirmones kathôs kai ho patêr humôn oiktirmôn estin


* Ulangan 18:13
LAI TB, Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu.
KJV, Thou shalt be perfect with the LORD thy God.
Hebrew,
תָּמִים תִּהְיֶה עִם יְהוָה אֱלֹהֶיךָ׃ ס
Translit TAMIM TIHYEH 'IM YEHOVAH (baca ADONAY) 'ELOHEIKHA
Septiaginta (LXX), τελειος εση εναντιον κυριου του θεου σου
Translit, TELEIOS ESÊ ENANTION KURION TOU THEOU SOU


Kata sifat τελειος - TELEIOS adalah bentukan dari kata benda τελος – TELOS, yang berarti "akhir, tujuan, maksud dan hasil". Jadi, manusia disebut sempurna kalau sepenuhnya berfungsi sesuai dengan tujuan penciptaannya. Alkitab mengisahkan bahwa manusia diciptakan untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita ... " (Kejadian 1: 26). Manusia menjadi segambar dan serupa dengan Allah bila melakukan kasih yang penuh kebajikan tanpa batas dan demi kebaikan semata.



Mencari dan Menjimpit Pesan


Orang-orang Yahudi mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Namun bagi mereka yang dianggap sesama hanyalah orang-orang sebangsanya. Bangsa-bangsa lain, terutama orang-orang kafir yang tidak mengakui Allah adalah musuh-musuhnya. Karena itu ajakan Yesus untuk mengasihi musuh, bagi orang-orang Yahudi berarti mengasihi orang¬orang asing yang tidak sebangsa. Bagi orang Kristen, musuh adalah orang yang menganiaya karena alasan iman akan Yesus. Maka, perintah Yesus "kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu", harus dimengerti sebagai kasih agape.
Kasih agape mendorong orang untuk membuang segala pikiran jahat dan memperlakukan orang lain dengan kebajikan tak kenal batas dan demi kebaikan semata. Perlakuan seperti itu bisa jadi malah harus menghukumnya untuk mendidik dan melindungi dari hal-hal yang membahayakannya. Karena itu patokannya bukan balas jasa. Kita harus mengasihi tanpa perhitungan dan tidak mengharap balasan. Kita harus mengasihi tanpa membeda-bedakan orang benar dan tidak benar.

Sumber :
Surip Stanislaus, OFMCap. Kata-kata Pedas , Lembaga Biblika Indonesia, p 93-105
www.sarapanpagi.com

Berikan Pipi Yang Lain

Ucapan Yesus Yang Sulit, 15 :

Matius 5:39
LAI TB Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
KJV, But I say unto you, That ye resist not evil: but whosoever shall smite thee on thy right cheek, turn to him the other also.
TR, εγω δε λεγω υμιν μη αντιστηναι τω πονηρω αλλ οστις σε ραπισει επι την δεξιαν σου σιαγονα στρεψον αυτω και την αλλην
Translit interlinear, egô {Aku} de {tetapi} legô {berkata} humin {kepada kalian} mê {jangan} antistênai {melawan} tô {(orang) yang} ponêrô {jahat} all {melainkan} hostis {siapa yang} se {engkau} rapisei {(ia akan menampar)} epi {pada} tên {yang} dexian {kanan} sou {(-mu)} siagona {pipi} strepson {palingkanlah} autô {kepadanya} kai {dan} tên {yang} allên {[pipi] lain}


Ini merupakan perkataan keras dalam arti bahwa perkataan ini menetapkan sebuat tindakan yang tidak lazim bagi kita. Serangan yang tiba-tiba segera menyulut kemarahan dan pembalasan.
Jika kita mau melihat Matius 5:39 ini dengan sangat harfiah, maka serangan itu sungguh jahat, sebab jika si penampar menggunakan tangan kanannya, maka ia akan menampar pipi kanan orang itu dengan bagian belakang telapak kanannya (punggung tangannya).
Menurut hukum rabinis Yahudi, menampar orang dengan memakai bagian punggung tangan mengandung arti penghinaan dua kali lipat ketimbang kalau menampar dengan telapak tangan saja.

Ini merupakan suatu ilustrasi/ contoh yang dipakai Tuhan yesus untuk menunjukkan bahwa cara hidup Kerajaan Allah lebih banyak tuntutannya daripada apa yang dikatakan dalam Hukum Taurat.


* Matius 5:38-39
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.


Hukum Lex Talionis (mata ganti mata, gigi ganti gigi) memang dipaparkan dalam undang-undang hukum Israel yang paling awal (Keluaran 21:24). Dan pada saat pertama kali dicanangkan, hal itu merupakan sebuah langkah yang maju besar, karena itu mengetengahkan batasan yang ketat dalam pembalasan dendanm seseorang.
Hukum ini menggantikan sebuah sistem yang lebih tua mengenai keadilan. Menurut sistem itu, jikalau seorang anggota dari suku X melukai seorang anggota dari suku Y, maka suku Y wajib membalas seorang anggota suku X.
Ini dengan cepat mengakibatkan penumpahan darah diantara kedua suku berakhir dengan penderitaan yang jauh lebih besar daripada luka yang mula-mula. Tetapi dalam undang-undang hukum Israel terjalin sebuah prinsip tentang pembalasan yang akurat : satu mata, tidak lebih, ganti satu mata; satu nyawa, dan tidak lebih, ganti satu nyawa.
Jika kehormatan yang terluka, dibalaskan dengan ganti rugi yang begitu tepat dan sebanding, maka hidup tidak lagi penuh bahaya. Penerimaan prinsip ini mempermudah diterimanya ganti-rugi, berupa uang yang dalam banyak kasus merupakan pengganti yang memadai bagi penderitaan yang dialami oleh orang yang dirugikan karena dilukai.

Tetapi sekarang Tuhan Yesus membuat langkah yang lebih lanjut "jangan membalas sama sekali". Tindakan "menampar pipi" itu berbeda dengan "tindakan pemukulan biasa" dengan jotos atau dengan alat. Tindakan menampar adalah tindakan yang bersifat "menghina", malahan Yesus memberikan contoh "tampar pipi kanan" yang menunjukkan bahwa pemamparan itu dilakukan dengan punggung tangan. Dan ini tindakan yang sungguh melecehkan. Ungkapan tentang "memberikan pipi" juga kita temukan di dalam Perjanjian Lama:


* Ratapan 3:30
LAI TB, Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.
KJV, He giveth his cheek to him that smiteth him: he is filled full with reproach.
Hebrew,
יִתֵּן לְמַכֵּהוּ לֶחִי יִשְׂבַּע בְּחֶרְפָּה׃ ס
Translit, YITEN LEMAKEHU LEKHI YISBA' BEKHERPÂH


Di sini kita temukan 'paralelisme' Ibrani bahwa memberikan pipi kepada yang menampar ibarat penuh dan kenyang dengan cercaan.
Dan Tuhan Yesus berkata "siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu". Jadi, melalui ilustrasi ini, yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus ialah, meskipun ada orang yang dengan sengaja menghina kita dengan hinaan yang paling berat dan menyakitkan, kita sama sekali tidak boleh membalas atau mendendam. Makna yang terkandung di dalam perkataan ini jauh lebih mendalam ketimbang tindakan yang nampak secara kasat mata mempermalukan seseorang.

Matius 5:39 adalah ilustrasi, namun jikalau ada seorang Kristen mengamalkan ayat ini secara harfiah, dimana ketika ia ditampar pipi kanan terus memberikan pipi yang sebelah lagi. Maka, ybs. adalah bodoh dan tidak memahami ajaran Yesus Kristus yang sebenarnya. Yesus Kristus sendiri tidak berbuat demikian tatkala ditampar, kita kaji ayat ini :


* Yohanes 18:22-23
18:22 Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?"
18:23 Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?"


Yesus Kristus pun sering menggunakan paralelisme, ungkapan kedua merupakan penjelasan dari ungkapan yang pertama seperti yang kita temukan dalam Matius 5:39. Masih dalam fasal yang sama, hanya berbeda 10 ayat sebelumnya kita temukan ungkapan ini:


* Matius 5:29
LAI TB, Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
KJV, And if thy right eye offend thee, pluck it out, and cast it from thee: for it is profitable for thee that one of thy members should perish, and not that thy whole body should be cast into hell.
TR, ει δε ο οφθαλμος σου ο δεξιος σκανδαλιζει σε εξελε αυτον και βαλε απο σου συμφερει γαρ σοι ινα αποληται εν των μελων σου και μη ολον το σωμα σου βληθη εις γεενναν
Translit, ei de ho ophthalmos sou ho dexios skandalizei se exele auton kai bale apo sou sumpherei gar soi ina apolêtai en tôn melôn sou kai mê olon to sôma sou blêthê eis geennan


Lantas, jika seseorang (Kristen) merasa bahwa matanya menyesatkannya, apakah ia harus mencungkil matanya tadi?
Jika demikian halnya -- seluruh perkataan Yesus Kristus diartikan secara harfiah – niscaya banyak orang (Kristen) yang bakal buta, buntung baik kaki maupun tangannya.


Dalam Matius 5:39 itu, Yesus Kristus mengajar agar kita tidak mendendam atau berusaha melakukan pembalasan. Mungkin anda tidak pernah ditampar seseorang (kalau pun ada) mungkin tidaklah sering. Tetapi mungkin diantara kita ada yang sering menghadapi hinaan, baik besar atau kecil. Dalam hal seperti itu Yesus mengatakan, bahwa murid yang sejati tidak akan mendendam atau membalas penghinaan apapun yang diterimanya. Yesus sendiri pernah dihina sebagai orang yang rakus dan pemabuk. Ia pernah disebut sebagai sahabat pemungut cukai dan pelacur. Ia dipersamakan dengan mereka itu. Orang-orang Kristen purba pun pernah disebut sebagai peminum darah, penghasut (istilah sekarang provokator), tak bermoral, jorok, dan tak tahu malu, karena mereka melakukan Pesta Kasih di dalam ibadah-ibadah mereka.

Jangankan di dalam masyarakat, di dalam gereja pun diantara orang-orang Kristen sendiri, sering terjadi hina-menghina seperti itu, baik secara langsung maupun tidak. Ada anggota gereja yang menghina anggota lain karena iri hati, merasa tersingkirkan, kalah, dan sebagainya. Dan ada pula anggota gereja yang merasa dihina, karena merasa tidak diberi tempat atau kesempatan untuk ikut serta dalam hal-hal yang dianggapnya penting. Yah, ada juga orang Kristen yang lupa makna penghinaan itu. Sebagai murid Tuhan Yesus Kristus seyogianya kita harus selalu belajar dari Guru kita untuk menerima penghinaan apa saja serta untuk tidak mendendam atau berusaha melakukan pembalasan.

Bagi murid-muridNya, Yesus menyempurnakan hukum lama yang berisi pembalasan dendam. Sebagai gantinya Ia memperkenalkan Bukum Baru dengan semangat yang baru, di mana tidak berlaku dendam atau pembalasan. Ia memberikan beberapa contoh semangat Kristiani seperti yang berlaku di dalam kenyataan hidup. Jika contoh-contoh itu dipahami secara bebas sembarangan, maka pasti tidak akan dapat menangkap makna yang sebenarnya. Oleh karena itu dirasakan perlu untuk memahami secara benar perkataan Yesus itu. "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."
(Matius 5:39, Lukas 6:29)


Kalau dicium pipi kanan, berikan juga PIPI kirimu, pasti banyak yang mau deh. Tetapi ini, kalau ditampar pipi kanan, harus berikan pipi kiri lho. Coba siapa mau? Lagian yang sering terjadi, sudah ditampar pipi kanan, belum diberi pun pipi kiri juga sudah ditampar. Karena itu perkataan Yesus itu jangan diartikan secara harfiah.

Menampar pipi kanan orang lain lebih gampang dilakukan dengan sebelah luar telapak tangan kanan. Bagi orang Timur Tengah kuno dan para rabiYahudi, menampar dengan sebelah luar telapak tangan dimengerti sebagai penghinaan berat. Penghinaan itu dua kali lipat dibanding tamparan dengan bagian dalam telapak tangan. Jadi, tamparan itu tidak dipandang sebagai kekerasan, tetapi lebih sebagai tanda penghinaan. Namun dengan perintah seperti itu, apa yang Yesus maksudkan?


Melihat Konteks Matius 5:38-42, Lukas 6:29-31


* Matius 5:38-42
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
5:40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
5:41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

* Lukas 6:29-31
6:29 Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
6:30 Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.
6:31 Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.


Yesus mengutip hukum kuno bangsa Israel tentang.balas dendam: "Mata ganti mata dan gigi ganti gigi". Hukum itu tercatat dalam Perjanjian Lama: "Jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak" (Keluaran 21 :23-25); "Apabila seseorang membuat orang sesamanya bercacat, maka seperti yang telah dilakukannya, begitulah harus dilakukan kepadanya: patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya" (Imamat 24:19-20); "Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki" (Ulangan 19: 21 ).

Hukum itu sering dimengerti keliru dan dinilai sebagai yang tidak berperikemanusiaan. Namun dalam konteks aslinya, hukum itu ditetapkan justru untuk mencegah agar orang tidak main hakim sendiri dan tidak terjadi penumpahan darah karena balas dendam semaunya sendiri. Hukum itu membatasi balas dendam hanya pada hukuman yang setimpal, tidak boleh lebih dari yang dilakukannya, mata ganti mata atau gigi ganti gigi, dan bukan mata ganti nyawa. Hukum itupun tidak diserahan kepada setiap pribadi untuk menentukan sendiri pembalasannya, tetapi sebagai pedoman bagi para hakim di pengadilan dalam menilai dan menjatuhkan hukuman kepada pelaku kejahatan (bandingkan Ulangan 19:18).

Peraturan Yahudi Baba Kamma bahkan tidak memberlakukan secara harfiah, tetapi memberi cara penilaian baru terhadap hukum balas dendam itu. "Kalau ada orang mencelakakan orang lain, maka ia harus bertanggung jawab atas lima hal, yaitu luka, rasa sakit, penyembuhan, waktu yang hilang dan kehormatan si penderita. Tentang luka, si penderita harus dihargai seperti seorang hamba yang mau dijual. Harga sebelum dan sesudah terluka ditentukan dan selisih harga harus dibayar si pelaku kejahatan. Tentang rasa sakit, ditentukan jumlah uang yang patut diterima oleh orang yang mengalami luka yang sama dan harus dibayar oleh si pelaku kejahatan. Tentang penyembuhan, semua biaya pengobatan dan perawatan yang diperlukan sampai si penderita benar-benar sembuh harus dibayar oleh si pelaku kejahatan. Tentang waktu yang hilang, jumlah upah yang seharusnya diterima si penderita kalau tidak terluka dan kompensasi perbedaan upah sebelum dan sesudah si penderita terluka harus dibayar oleh si pelaku kejahatan. Tentang kehormatan atau harga diri, kerugian karena rasa malu dan hina si penderita akibat luka yang dideritanya harus dibayar oleh si pelaku kejahatan."

Baba Kamma sangat maju dalam mengatur ganti rugi yang diakibatkan oleh tindak kejahatan. Namun etika masyarakat seperti itu tetap didasarkan pada hukum balas dendam. Memang hukum itu dimaksudkan untuk mencegah pembalasan yang tidak setimpal, sebagai pedoman para hakim agar orang tidak main hakim sendiri, dan tidak diberlakukan secara harfiah, tetapi Yesus menolak pendasaran hukum seperti itu. Sebab meski pembalasan dapat dikontrol, tetapi balas dendam sama sekali tidak mempunyai tempat dalam etika Kristen. Karena itu Yesus memperkenalkan hukum baru yang tidak didasarkan pada balas dendam, tetapi pada semangat Kristiani.

Yesus mengatakan: "Janganlah engkau melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu" (Matius 5:39, Lukas 6:29). Menampar pipi kanan orang lain lebih gampang dilakukan dengan sebelah luar telapak tangan kanan. Tamparan dengan sebelah luar telapak tangan dimengerti sebagai penghinaan berat. Penghinaan itu dua kali lipat dibanding tamparan dengan bagian dalam telapak tangan. Jadi, tamparan itu tidak dipandang sebagai kekerasan, tetapi lebih sebagai tanda penghinaan. Maka perkataan Yesus itu harus dimengerti sebagai ajakan untuk tidak balas dendam. Meski secara sengaja orang menghina dengan hinaan yang paling kasar dan menyakitkan, kita tidak boleh mendendam dan membalas. Ajakan itu pun bukan berarti bahwa kejahatan boleh dibiarkan dan kebenaran tidak usah diperjuangkan, tetapi Yesus mau agar kita berpegang pada strategi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.

Yesus mengingatkan kita akan hukum Perjanjian Lama: "Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan" (Ratapan 3: 30); "Janganlah berkata: Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia" (Amsal 24:29); "Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Imamat 19: 18); "Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu" (Amsal 25:21-22).

Paulus menggemakan hukum itu dalam suratnya: "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalah¬kanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:19-21).

Selanjutnya Yesus mengatakan: "Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu" (Matius 5:40, Lukas 6:29). Mengadukan karena mengingini baju artinya meminta bantuan hakim untuk memperkarakan secara hukum dan untuk mendapatkan baju. Sebab menurut hukum agama Yahudi, baju panas seseorang tidak boleh diambil biarpun untuk semalam saja: "Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pembalut kulitnya - pakai apakah ia pergi tidur?" (Keluaran 22:26727).

Setiap orang Yahudi memiliki baju, bahkan yang termiskin pun masih memiliki baju ganti. Dalam perkara pengadilan, baju dapat dijadikan sebagai barang tanggungan, sedangkan jubah tidak. Kebanyakan orang Yahudi hanya memiliki satu jubah
dan tidak punya gantinya. Jubah adalah semacam baju panas panjang hingga kaki yang berperan ganda. Karena cuaca daerah Palestina panas terik di siang hari
dan dingin di malam hari, jubah menjadi pakaian luar penghalang sengatan panas matahari sekaligus selimut penghangat tubuh dari dinginnya hawa malam.

Dengan perkataan itu berarti Yesus mau mengajak agar orang Kristen tidak menuntut hak-hak hukumnya, bahkan menganggap diri tidak mempunyai hak atas hukum itu, dan lebih mengutamakan kewajiban dan tanggung jawabnya.

Kemudian Yesus berkata lagi: "Siapa pun yang memaksa enqkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil" (Matius 5:41). Mengapa? Pemerintah Persia kuno mempunyai jaringan pengiriman surat dengan pos-pos yang jarak tempuhnya satu hari perjalanan. Di setiap pos tersedia makanan dan minuman bagi para pengantar surat serta rumput untuk kuda-kuda mereka. Kuda-kuda baru juga disiapkan untuk mengganti kuda-kuda yang sudah lemah, sehingga perjalanan dapat dilanjutkan ke pos berikutnya. Tetapi kalau kuda baru dan makanan-minuman tidak ada lagi, maka penduduk setempat dapat dipaksa untuk memberi makanan-minuman dani atau kudanya, bahkan dirinya dapat dipaksa untuk menghantar surat itu sejauh satu hari perjalanan. Kata Yunani untuk paksaan itu adalah aggareuin. Kata itu seterusnya dipakai untuk setiap bentuk paksaan yang dilakukan oleh para penguasa terhadap penduduk jajahan. Karena itu penduduk jajahan memang bisa dipaksa untuk menyediakan makanan-minuman, penginapan dan membawa barang-barang bawaan para penguasa itu.

Saat itu Palestina sedang dijajah dan dikuasai oleh kekaisaran Roma. Karena itu para serdadu
Romawi berhak memaksa orang-orang Yahudi untuk memikul barang-barang bawaan mereka sejauh kurang lebih 1.500 m. Jadi, dengan perkataan-Ny~ itu Yesus mau mengajak, bila kita dipaksa menemani dan membawa barang-barang penguasa sejauh 1500 m, maka kita harus berjalan bersamanya bukan hanya 1.500 m dengan hati jengkel dan dendam, tetapi
berjalan 3.000 m dengan hati sukacita. Artinya, kita jangan hanya memikirkan diri sendiri dan melakukan yang kita sukai, tetapi pikirkan dan utamaka~ tugas dan kewajiban untuk membantu dan melayani orang lain. Meski tugas itu tidak menyenangkan, kita jangan menjalankannya dengan maksud jahat dan rasa dendam, tetapi mengerjakannya dengan senang hati sebagai wujud pelayanan.

Akhirnya Yesus mengatakan: "Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu" (Matius 5:42, Lukas 6:30). Penginjil Lukas menambahkan "dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu".Yesus mengajak agar kita memberi dan tidak menolak orang yang meminta atau meminjam, bahkan mengambil milik kita. Berhadapan dengan para peminta, peminjam atau pengambil milik itu kita harus bersikap memberi saja tanpa memikirkan latar belakang ataupun alasan orang-orang itu. Sebab dengan sikap seperti itu kita telah dapat menyangkal dan mengalahkan diri dari kecenderungan kita yang bersikap sebaliknya. Sikap murah hati dan rela berbagi milik itu harus kita tunjukkan kepada semua orang, termasuk kepada musuh kita.

Agama Yahudi telah mengatur pemberian dengan sukarela itu: "Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan. Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu. Sebab orangorang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu" (ulangan 15:7-11).

Tahun ketujuh adalahTahun Sabat, di mana semua hutangcpiutang dengan sendirinya harus dihapuskan: "Pada akhir tujuh tahun engkau harus mengadakan penghapusan hutang. Inilah caranya penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkannya kepada sesamanya; janganlah ia menagih dari sesamanya atau saudaranya, karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN. Dari orang asing boleh kautagih, tetapi piutangmu kepada saudaramu haruslah kauhapuskan" (Ulangan 15: 1- 3). Orang yang tamak pasti akan menolak memberi pinjaman bila tahun ketujuh sudah dekat, sebab hutang itu akan segera dihapuskan dan ia kehilangan piutangnya. Dengan demikian orang diajak membuka tangan lebar-lebar untuk berbelas kasih kapan pun waktunya, bukan saja karena norma Tahun Sabat akan memaksanya, tetapi karena Tuhan akan memberkatinya. Belas kasih itu mutlak bagi sesama dan saudaranya.

Injil Lukas ditutup dengan perkataan Yesus: "Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka" (Lukas 6:31). Hillel, seorang rabi besar Yahudi mengatakan:
"Apa yang kamu benci, janganlah lakukan itu kepada orang lain. Itulah keseluruhan hukum Taurat dan selebihnya adalah penjelasannya. Philo dari Aleksandria berkata: "Apa yang tidak ingin engkau derita, janganlah lakukan kepada orang lain". Aliran Stoa pun berprinsip: "Apa yang tidak kamu kehendaki dilakukan orang kepadamu, janganlah lakukan Itu kepada orang lain". Confucius juga bilang: "Apa yang tidak kamu kehendaki orang lain lakukan kepadamu, janganlah lakukan hal itu kepada orang lain".

Ajakan para tokoh itu berupa nasihat dalam bentuk negatif. Kita tahu bahwa tidak terlalu sulit untuk tidak melakukan sesuatu yang orang lain tidak ingin lakukan kepada kita. Tetapi akan lebih sulit kalau inisiatif untuk melakukan sesuatu itu datang dari diri kita. Yesus mengajarkan nasihat-nasihat dalam bentuk yang positif itu. Ia ingin agar kita bukan saja harus berhenti dari segala hal yang jahat, tetapi juga harus aktif melakukan segala sesuatu yang baik.



Mencari dan Menjimpit Pesan


Perkataan tentang "barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga pipimu yang lain", tidak boleh dimengerti secara harfiah. Yesus pun tidak mempraktekkan secara harfiah kata-kata-Nya itu. Ingat, pada waktu Yesus dihadapkan dan ditanyai Imam Besar, Ia ditampar oleh seorang penjaga dan Ia hanya menjawab: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapa engkau menampar Aku?" (Yohanes 18:23).

Perkataan Yesus tentang tampar pipi yang satu berikan pipi yang lain itu harus ditempatkan dalam konteks pengajaran untuk tidak balas dendam. Meski dengan sengaja orang menghina sangat kasar dan menyakitkan, kita tidak boleh mendendam dan membalas. Tetapi itu bukan berarti bahwa kejahatan boleh dibiarkan saja dan kebenaran tak usah diperjuangkan. Yesus mengajak agar kita memakai strategi "kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan". Strategi itu untuk menolong agar orang sampai pada pertobatan. Sebab kemauan bertobat orang itu tidak akan muncul kalau kejahatannya dibalas dengan kejahatan juga.

Disalin dari :
Surip Stanislaus, OFMCap. Kata-kata Pedas , Lembaga Biblika Indonesia, p 37-49
www.sarapanpagi.com