JEMAAT BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY

Gembala Sidang : Pdt. Jusak Santoso JADWAL IBADAH RAYA : New Grand Park Hotel Jl. Samudra 3 - 5 Surabaya. Minggu Ibadah Raya I ~ Pk. 06.00 WIB (Disertai Penyerahan anak) Ibadah Raya Anak I (Sekolah Minggu I) ; Minggu Ibadah Raya II ~ Pk. 08.30 WIB (Disertai Penyerahan anak) Ibadah Raya Anak II (Sekolah Minggu II) ; Minggu Ibadah Raya III ~ Pk. 17.00 WIB Di Ruko Pengampon Square F-28 Jl. Semut Baru Surabaya. Minggu ketiga, Ibadah Raya I,II & III Setiap bulannya disertai dengan Sakramen Perjamuan Kudus. JADWAL KEBAKTIAN : Di Ruko Pengampon Square Blok F-28 Jalan Semut Baru Surabaya. Senin Pk. 18.30 WIB Pendalaman Alkitab. Selasa Pk. 10.00 WIB Kebaktian Kaum Wanita. Pk. 18.00 WIB Kebaktian Cabang (Jln. Tegalsari No. 62 Surabaya). Rabu Pk. 10.00 WIB Doa & Puasa. Pk. 18.30 WIB Doa Malam. Jum'at Pk. 18.00 WIB Youth Community. Pk. 22.00-04.00 WIB Doa Semalam Suntuk. Senin s/d Sabtu Pk. 04.30-05.30 WIB Doa Pagi . "Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!" (Yesaya 55:6)

RAHASIA HIDUP DALAM BERKAT TUHAN

RAHASIA HIDUP DALAM BERKAT TUHAN : 1. Berilah Hati untuk Tuhan 2. Berilah Pikiran untuk Tuhan 3. Berilah Waktu untuk Tuhan Maka akan terjadi Percaya DAPAT Pasti DAPAT (Markus 11:24) BANYAK BERDOA banyak BERKAT, SEDIKIT BERDOA berarti sedikit BERKAT, TIDAK BERDOA dipastikan tidak ada BERKAT
Tampilkan postingan dengan label Hold My Hand. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hold My Hand. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Februari 2010

" 6 Pertanyaan yang patut kita renungkan "

Suatu hari Seorang Guru berkumpul dengan murid-muridnya. ..
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. .

Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "orang tua", "guru", "teman", dan "kerabatnya" ...
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar... Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. . Sebab kematian adalah PASTI adanya.....

Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "negara Cina", "bulan", "matahari", dan "bintang-bintang" ...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar... Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"... Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap
kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu... Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan
datang..

Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".. .
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ... Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"... Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya... Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu... Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...

Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru .. tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...

Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru... tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...

Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"... Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan melukai perasaan saudaranya sendiri...

Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...
senantiasa belajar dari MASA LALU...
dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???

Posted By : Yuliana
Sumber: R.H.K

BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY

Minggu, 31 Januari 2010

^^PELANGI SESUDAH BADAI^^

Semasa anak-anak, menyeberangi sungai besar yang sedang meluap karena banjir tidak membuatku takut, begitu pula mendaki gunung yang tinggi. Satu-satunya yang paling kutakuti adalah hujan badai yang disertai angin kencang.
Jika cuaca sudah mulai mendung dan awan hitam terlihat menggelantung di kaki langit, hatiku mulai gelisah. Apalagi jika aku lihat kilat, mendengar bunyi guntur dan mulai merasakan hembusan angin kencang disertai butiran-butiran air yang menunjukkan bahwa hujan sudah mulai turun.
Di saat-saat seperti itu aku akan berjalan mondar-mandir di dalam rumah sambil menaikan doa agar tidak terjadi angin kencang. Aku takut mendengar bunyi gemuruh angin dan melihat pohon-pohon yang tinggi meliuk-liuk karena tiupan angin kencang.
Kondisi seperti ini selalu menjadi ancaman yang menakutkan bagiku. Seandainya ada alat pendeteksi jantung di saat-saat seperti itu, orang akan tahu bahwa jantungku berdegup begitu kencang dan kuat.
Entah mengapa di masa anak-anak dulu, hujan badai, angin kencang yang disertai petir dan guntur, selalu membuatku berpikir bahwa kiamat datang.Tetapi jika badai itu sudah tenang, perlahan-lahan jiwaku yang goncang kembali normal. Yang lebih membuatku bisa bernafas lega, jika aku melihat pelangi membentang di langit sesudah hujan turun. Muncul pelangi sesudah badai seolah-olah berkata, "TENANGLAH, BADAI TELAH BERLALU DAN SEMUA BAIK-BAIK SAJA."

Di dalam hidup manusia, ada saat-saat di mana badai hidup datang. Badai bisa diartikan sebagai permasalahan dan kesulitan hidup yang membuat kita merasa sangat tertekan dan takut. Badai hidup bisa datang dalam bentuk penyakit yang berat, kesulitan ekonomi, masalah rumah tangga, masalah pekerjaan. Dalam menghadapi kondisi seperti ini, sebagian orang menjadi putus asa dan mengambil jalan pintas, tetapi sebagian lagi tetap memandang Tuhan dan menaruh harapannya kepada Tuhan.

Orang-orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan sekalipun dihimpit kesukaran, pada akhirnya akan merasakan kelegaan.

Kita tidak bisa menghindar dari badai kehidupan, tapi kita bisa memilih untuk tetap setia dan percaya Tuhan. Ada ungkapan yang mengatakan, "BETAPAPUN GELAP HARI-HARI KITA DAN BETAPAPUN SUKARNYA JALAN YANG KITA LALUI, TETAPI BERSAMA DENGAN TUHAN SELALU ADA PELANGI MENANTI DI DEPAN."

Jika saat ini kita sedang diterpa badai hidup, janganlah takut. Teruslah arahkan hati kepada Tuhan karena Tuhan yang memelihara kita adalah setia. Tuhan selalu menuntun kita ketika melalui jalan yang sukar, dan dengan tangan yang kuat Tuhan menggendong kita.


Salam kasih.. :)

BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY

Kamis, 21 Januari 2010

^^MENJADI BAHAGIA DENGAN MELUPAKAN KESALAHAN^^

"MEMAAFKAN DENGAN TULUS"

Dalam kondisi demikian, sikap memaafkan akan menolong banyak orang menikmati kebahagiaan dalam relasi dan interaksi dengan sesama. Memaafkan adalah kearifan sejati di mana kita dapat mengulurkan tangan terlebih dulu tanpa harus menunggu pernyataan bersalah dari orang yang pernah konflik dengan kita. Memaafkan adalah ketulusan kita untuk memberi senyum kepada orang yang kurang bersahabat. Karena memaafkan adalah sesungguhnya untuk melupakan dan tidak mengingat-ingat apa yang pernah orang lain lakukan kepada kita. Memaafkan adalah sikap menjauhkan diri untuk membuat keseimbangan dan peradilan dengan cara yang sama sebagaimana kita pernah mengalaminya. Memaafkan adalah upaya mengisi lembar-lembar baru dari hari-hari di depan dengan keindahan persahabatan. Memaafkan adalah kemampuan kita mengelola kesakitan menjadi keramahan. Mengubah penderitaan menjadi kebebasan.

Dengan memaafkan, kita sedang mengantar diri kita pada kebahagiaan. Ya... kebahagian. Dengan memaafkan, tidak ada lagi rasa kesal dan rasa sakit sekalipun banyak orang menganggap kita orang yang kalah. Memaafkan membuat kita benar-benar menjadi seorang pemenang karena kita mampu mengalahkan diri sendiri demi orang lain.

Mulailah memandang orang yang pernah menyakiti kita dengan mata dan hati yang baru. Pandanglah mereka bukan sebagai orang-orang yang pernah menyakiti kita, tetapi sebagai orang-orang yang membutuhkan pengampunan dan kemurahan dari kita. Pandanglah mereka bukan sebagai orang yang pernah mengkhianati kita, tetapi sebagai orang yang sedang membutuhkan pembelajaran dari kita. Oleh karena itu, berikan pelajaran yang baik pada mereka.

Biarkan tangan kita mengulur lebih dulu sebelum dia sempat menyadari kesalahannya. Biarkan bibir kita tersenyum lebih dulu sebelum dia sempat menjadi malu karena kekeliruannya. Jadikan diri kita tampak terhormat. Tempatkan mereka juga dalam barisan yang sama dan nikmatilah kebahagiaannya.. :)

Salam Damai...:)

BLESSING FAMILY CENTRE MINISTRY

Senin, 21 Desember 2009

"Bersyukurkah Kita Selalu ???"

Dari tadi pagi hujan mengguyur kota tanpa henti, udara yang biasanya sangat panas,
hari ini terasa sangat dingin. Di jalanan hanya sesekali mobil yang lewat, hari ini hari
libur membuat orang kota malas untuk keluar rumah. Di perempatan jalan, Umar,
seorang anak kecil berlari-lari menghampiri mobil yang berhenti di lampu merah, dia
membiarkan tubuhnya terguyur air hujan, hanya saja dia begitu erat melindungi koran
dagangannya dengan lembaran plastik.

"Korannya bu !"seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan, dalam hatinya dia
merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan untuk menjual koran.
Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan dari lipatan dompet dan
membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

"Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

"Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi aku juga sudah
baca", jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku, lalu diulurkan kembali uang dua
puluh ribu yang dia terima, "Terima kasih bu, saya menjual koran,
kalau ibu mau beli koran silakan, tetapi kalau ibu memberikan secara
cuma-cuma, mohon maaf saya tidak bisa menerimanya" , Umar berkata
dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya, raut mukanya tampak
kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil. Dari dalam mobil dia
menggerutu "Udah miskin sombong!". Kakinya menginjak pedal gas karena
lampu menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar yang termenung penuh
tanda tanya.

Umar berlari lagi kepinggir, dia mencoba merapatkan tubuhnya dengan
dinding ruko tempatnya berteduh. Tangan kecilnya sesekali mengusap
muka untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel. Sambil
termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan didepannya,

"Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku", gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda, Umar masih saja duduk
berteduh di emperan ruko, sesekali tampak tangannya memegangi perut
yang sudah mulai lapar. Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti,
seorang bapak dengan bersungut-sungut turun dari mobil menuju tempat
sampah,

"Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk", dengan
penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan ke dalam tong
sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.

Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil.

"Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak
buang untuk saya makan", pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil didepannya. Harusnya dia bisa
saja mengambilnya dari tong sampah tanpa harus meminta ijin. Muncul
perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

"Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau"

"Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya sudah cukup bagi
saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.

"Bbbbbooolehh" , jawab pria tersebut dengan tertegun.

Umar berlari riang menuju tong sampah, dengan wajah sangat bahagia dia
mulai makan gorengan, sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang
dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan.
Dengan perasaan berkecamuk didekatinya Umar.

"Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk
mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu
bertanya dan menatap wajah anak kecil didepannya dengan penuh perasaan
kasihan.

"Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan
enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada
pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi
bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta
ijin memakannya ", jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari
sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar
biasa. "Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan
kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak,
tetapi mengapa kamu menolaknya".

Si anak kecil tersenyum dengan manis,
"Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya
makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya
mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang
menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi
mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus."

"Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih
baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran dimana aku yang akan
mentraktirnya" , ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena
merasa anak didepannya berfikir keliru. Umar menatap wajah laki-laki
didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,

"Bapak !, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan
hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya", Umar
memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali,

" Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan
merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang
nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan
untuk mendapatkannya kembali dikemudian hari." Umar berhenti berbicara
sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki didepannya untuk berpamitan.
Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,

"Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan
keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak
lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa
merasakan kebahagiaannya" .

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil didepannya
yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.

"Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak
dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini"

Selamat Menjalani Hari Dengan Penuh Rahmat.

Rabu, 02 Desember 2009

Menaburlah terus,karena kau tak kan tahu apa yang akan kau tuai..

Suatu waktu, adalah seorang gadis remaja. Ia seorang yang sangat 'sempurna'. Ia pandai, cantik, ramah, kaya, dan mudah bergaul. Ia juga tidak sombong dan mau bergaul dengan semua golongan. Lebih dari itu, ia juga seorang yang taat pada Tuhan. Ia seorang aktivis gereja yang sangat produktif & luar biasa.
Suatu ketika, ia mempunyai seorang teman laki-laki di sekolahnya. Sangat berkebalikan dengannya, ia seorang yang pas-pasan, tidak pandai, dan tidak disukai banyak orang. Ia adalah seorang yang kelihatannya tidak memiliki masa depan yang jelas. Namun demikian, gadis ini tidak menjauhinya. Ia justru mendekatinya, menjadi teman yang baik baginya, menjelaskan pelajaran yang tidak dimengertinya, dan bahkan mentraktirnya di kantin sekolah ketika ia tidak punya cukup uang untuk jajan. Lebih dari itu juga, ia terus mendorong temannya itu untuk datang ke gereja & mengenal Tuhan. Namun si teman laki-laki ini selalu menolak untuk datang ke gereja. Gadis itu tidak putus harapan, ia senantiasa mendorongnya dengan setia, walau usahanya kerap tidak membuahkan hasil yang memuaskan.
Keadaan berlangsung cukup lama, sampai suatu ketika terjadi sesuatu yang tragis. Dalam suatu insiden, gadis itu tertabrak mobil dan akhirnya meninggal dunia. Tentu saja ini adalah suatu pukulan yang luar biasa bagi si teman laki-laki ini. Di sela-sela dukacitanya, ia berkeinginan untuk 'membayar hutang'nya selama ini pada gadis itu. Ia berpikir bahwa dengan datang ke gereja, ia dapat melunaskan hutangnya karena selama ini sang gadis selalu memohon dia untuk datang ke gereja. Akhirnya ia memutuskan untuk datang ke gereja, hanya satu kali saja, setelah itu hutangnya lunas.
Ketika si teman laki-laki itu datang ke gereja, ia mendengarkan Firman Tuhan, yang menyatakan padanya tentang seorang sahabat sejati yang senantiasa menaruh kasih setiap waktu. Ia teringat pada kasih yang diberikan gadis itu kepadanya & Tuhan menyentuh hatinya melalui kenangannya itu. Pada hari itu juga, ia memutuskan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.
Ia pun terus bertumbuh dan bertumbuh dalam kasih dan dalam Kristus. Walau laki-laki itu tidak mengenyam pendidikan musik secara formal, namun nada-nada bergelora dalam hatinya. Oleh sebab itu, ia menciptakan banyak lagu, di antaranya : 'Sejauh timur dari barat', 'mujizat itu nyata', 'hati sebagai hamba', 'sungguh indah Kau Tuhan', dll. Lagu-lagu itu pula yang saat ini begitu mewarnai kehidupan rohani orang-orang Kristen di Indonesia. Laki-laki dengan masa depan yang tidak jelas itu adalah JONATHAN PRAWIRA, salah satu komposer musik rohani besar di Indonesia, yang memberi kontribusi besar pada kehidupan rohani jutaan orang percaya.
Teman, bagaimana dengan kita? Ketika kita melihat orang-orang yang tidak berpengharapan, orang-orang yang begitu menyebalkan bagi kita, orang-orang yang mungkin kita pikir tidak mungkin berkarya bagi Tuhan karena saking bejatnya mereka; apa yang kita akan perbuat dengan mereka? Membiarkannya? Bukankah semua orang juga akan berbuat hal yang sama?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, mari kita merenungkan hal ini. Bagaimana jika seandainya gadis remaja itu tidak pernah mengajak teman laki-lakinya itu ke gereja? Bagaimana jika gadis sempurna itu berlaku seperti orang lain, yang menjauhinya dan tidak menaruh perhatian padanya? Bagaimana jika gadis itu berpikir,"Ah, apa untungnya aku dekat-dekat dengan dia"? Jawabannya jelas. Kita tidak akan mengenal Jonathan Prawira dan puluhan lagu rohani karyanya.
Demikian pula kita. Jangan pernah berhenti bersaksi, dan menaburkan kasih Kristus kepada sesamamu. Karena kita semua tidak akan pernah tahu, siapa yang akan kita tuai. Kita tidak akan pernah tahu, sebesar apa hasil orang yang kita tabur dengan kasih Kristus. Kita tidak akan pernah tahu, bahwa akan ada Jonathan Prawira – Jonathan Prawira yang lain yang akan kita tuai. Lihatlah sekelilingmu, itulah ladang-ladang yang Tuhan sediakan untuk kita menabur benih kasih. Oleh sebab itu, di manapun, kapanpun, ubahlah cara pandangmu, dan TETAPLAH MENABUR!



-Berdasarkan kesaksian pribadi Jonathan Prawira-

Jemaat Blessing Family Centre Ministry

Rabu, 25 November 2009

"Berkorban itu Indah"

Musim hujan sudah berlangsung dua bulan sehingga di mana-mana

pepohonan nampak menghijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-Daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

"Apa kabar daun hijau,"katanya.Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. "Oo,kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil,mengapa?"tanya daun hijau. "Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku.Bisakah engkau membantuku sobat?"kata ulat kecil.

"Tentu…tentu…mendekatlah kemari." Daun hijau berpikir,"jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan kelihatan berlobang2.Tapi tak apalah. "

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanannya itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana-sini namun ia bahagia bisa melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah,disapu orang dan dibakar.

Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Toh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang2 yang masih mempunyai " hati " bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah ,tetapi indah. Ketika berkorban,diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. kita akan tetap hijau,Sbab Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi "daun hijau",berkorban merupakan suatu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai "daun hijau". Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita,hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan2 baik ;kasih; pengorbanan ; pengertian ;kesetiaan ; kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama,melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? jadi ulat kecil yang menerima kabaikan orang atau manjadi "daun hijau" yang senang memberi?

Ingatkah kita pada perempuan miskin yang di tengah ketidakpunyaannya justru ia memberi semua yang dipunyainya ? Ingatkah kita akan " lebih baik memberi daripada menerima ?"

Sudahkah pernah anda rasakan kesenangan yang "daun hijau" rasakan pada saat ia memberi daunnya untuk si ulat kecil ? Bisakah anda bedakan rasa yang akan anda rasakan bila: anda punya, maka anda memberi dan anda tidak punya, tetapi anda memberi ??? anda punya dan memberi……itu sudah biasa,sudah umumnya,sudah tidak heran…tapi anda tidak punya, justru anda memberi lebih….itu luar biasa,……………. itu sungguh aneh bagi orang,tetapi itulah KASIH sejati.

Jemaat Blessing Family Centre Ministry

Senin, 16 November 2009

Menemukan Hati Nurani

Ada sebuah telaga yang indah. Airnya sejuk, jernih dan tenang. Permukaannya berkilauan, bukan hanya karena memantulkan sinar rembulan, namun batu-batu pualam yang ada di dasarnya juga memancarkan cahaya. Kedamaian selalu meliputinya.

Sayangnya, telaga itu tak mudah dijangkau. Ia terletak di tengah hutan lebat yang dipagari oleh semak berduri. Pepohonan tinggi dan binatang buas menghadang setiap langkah ke sana. Siapa pun yang mampu menemui dan mereguk keindahannya, maka raja rimba pun akan tunduk dan patuh padanya.

Telaga itu adalah hati nurani Anda yang senantiasa menyerukan ketentraman batin. Kesejukan regukan airnya memberi makna pada hidup Anda. Sedangkan rimba lebat penuh onak dan binatang buas adalah wujud dari pikiran, emosi, hawa nafsu dan persepsi indrawi yang selalu menghalangi jalan Anda. Tanpa Anda sadari, ia pun dapat melukai diri Anda.

Namun bila Anda telah menemukan suara hati nurani itu, maka kekuatan dan kedamaian melingkupi Anda. Ketika hati nurani Anda tercemar, segala dosa dan kecemaran menjadi sebuah kebenaran bagi Anda. Temukan telaga jernih milik Anda. Itulah anugerah paling berharga yang harus Anda pegang teguh dalam hidup ini.

Jemaat Blessing Family Centre Ministry

Senin, 09 November 2009

Sebuah Dunia Untuk Natahan (1) (ini yang nge-share sampai nangis T-T)

Tak terlukiskan kebahagiaan Mazaya saat pertama kali ia tahu ada kehidupan di dalam rahimnya. Nathan, hadir menebar benih kebahagiaan di kehidupan Mazaya dan Haykel yang sempat senyap selama empat tahun lamanya. Proses melahirkan yang harus melalui prosedur vacuum dan rasa sakit tak terperihkan terbayar sudah saat tangis kecilnya memecah keheningan malam.

Nathan adalah bayi yang sangat menyenangkan. Tidak pernah rewel bahkan ia seolah mengerti kelelahan Mazaya dalam mengasuhnya sehingga tangisnya hampir tak pernah terdengar dimalam hari. Mazaya mengganggap Nathan adalah malaikat kecil persembahan Tuhan untuk lebih memaknai hidupnya. Namun ketika bulan merambat hingga menjelang satu tahun usianya. Mazaya baru merasakan ada hal yang tak normal pada diri Nathan. Ia tak bisa focus dan hampir tak ada kontak mata, tak bisa tersenyum bahkan untuk permainan simple seperti “cilukba”, tak ada ekspresi hidup diwajah mungilnya. Dan yang membuat hati ibu muda itu bagai direngut dari tempatnya adalah ketika pada suatu hari Nathan membentur-benturkan kepalanya ke dinding hingga memar-memar dibagian keningnya.

Apa yang terlintas dibenak Mazaya saat itu adalah sebuah kengerian dan ketidak yakinan pada sebuah kata “Autisme”. Tanpa berpikir panjang ia langsung menghubungi Linda sahabatnya yang kebetulan juga memiliki anak dengan “berkah” Autisme, untuk mencari referensi mengenai dokter terbaik yang dapat memberikan pertolongan bagi Nathan kecilnya.

“Dari pemeriksaan yang saya lakukan, memang terdapat gejala Autisme Infantil pada Nathan” Ujar dokter Farras yang membuat Mazaya seolah disengat listrik ribuan kilowatt.

“Sejak lahir ia baik-baik saja Dok, memang sering diare dan agak lambat berbicara tapi kenapa tiba-tiba harus terkena Autis ? Bisakah disembuhkan ?” Tanyanya cemas dengan air mata bersimbah jatuh.

“Tenang Bu” Ujar Dokter Farras menenangkan “Sekarang ini telah banyak penderita Autis yang bisa disembuhkan dan dapat tumbuh layaknya anak yang terlahir normal. Tapi tentunya dengan perawatan medis serta nonmedis yang menyeluruh” Ujarnya

“Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang Dok” Tanya Mazaya sambil mendekap tubuh Nathan.

“Hal pertama adalah lakukan diet GFCF.”

“Diet GFCF ? Jenis-jenis makanan apa saja Dok ?”

“Maksudnya adalah Gluten Free and Casein Free. Nathan sama sekali dilarang menyantap makanan yang mengandung terigu, gandum dan susu sapi. Mulai sekarang gantilah menu hariannya dan konsumsi susu yang tidak mengandung jenis makanan itu. Nanti akan saya berikan resep sederhana untuk panduan Ibu dalam memberi makanan pada Nathan. Tapi di pasaran juga sudah banyak diterbitkan buku-buku masakan untuk anak Autis, cobalah cari ditoko-toko buku. Tidak usah cemas Bu. Usia Nathan masih terbilang muda saat terdeteksi. Ada pasien saya yang sudah berusia empat tahun ketika orang tuanya sadar anaknya menderita Autis dan bisa disembuhkan meskipun masih terus menjalani terapi lanjutan sampai saat ini. Yang terpenting dalam hal ini adalah dukungan, kasih sayang serta perhatian tulus dari Ibu selaku orang tua Nathan”.

Dokter Farras menepuk-nepuk bahu Mazaya seolah hendak memberi kekuatan pada Ibu muda itu. Tak ada satu orang tuapun yang menghendaki anaknya terlahir dengan kondisi tersebut. Tapi apapun kenyataannya, mata batin Mazaya sudah bisa melihat gambaran kehidupan seperti apa yang akan dilaluinya bersama Nathan.

Haykel termenung sedih mendengar penuturan Mazaya. Ia tak habis pikir bagaimana bisa penyakit menakutkan itu menghinggapi buah hatinya. Padahal ia sendiri terlahir dari keturunan yang kesemuanya sehat dan tidak ada yang beriwayat hiperaktip apalagi Autis.

“Mungkin diagnosa Dokter Farras salah, coba bawa Nathan ke dokter anak yang lain” ujarnya tak yakin.

“Dokter Farras menggunakan DSM-IV atau ICD-10 saat menarik kesimpulan mengenai penyakit itu, menurutnya itu adalah standar internasional untuk mendeteksi Autisme. Setelah diwawancara, Ia juga menyuruhku mengisi form kuesioner berkenaan dengan kondisi Nathan. Dan tiga hari lagi Nathan diminta untuk melakukan pemeriksaan fisik seperti darah, urine dan lainnya. Boleh juga sich, minta pendapat dokter lain tapi bukannya itu malah buang waktu. Lebih baik kita ikuti saja saran Dokter Farras untuk menjalani terapi dan pengobatan medis buat Nathan” Ujarnya serius seraya menyelimuti tubuh Nathan “Kebetulan Dokter Farras itu juga yang menangani anaknya Linda, jadi pengalamannya untuk pasien Autis sudah tidak diragukan lagi.”

Haykel menghela nafas dalam “Jadi kamu terima saja anak kita di vonis Autis ?” ujarnya meninggi. “Lalu mau bagaimana lagi ? Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah segera berbuat sesuatu buat Nathan”. “Aku nggak
percaya ! Aku ini dari keturunan yang bersih, tidak mungkin anakku menderita penyakit itu !” sahut Heykal semakin meninggi. Mazaya mencoba menenangkan rasa frustasi suaminya.

“Autis bukan penyakit keturunan Mas. Menurut Dokter Farras, Autis bisa disembuhkan walau memakan waktu lama dan sangat membutuhkan kesabaran serta kasih sayang kita selaku orang tuanya.” Ujar Mazaya sambil menggenggam jemari suaminya yang dingin.

“Mas, Nathan adalah anak kita. Terimalah kehadirannya sebagaimana dia adanya. Nathan apalagi kita memang tak menghendaki takdir ini. Tapi kita lah yang ditunjuk Tuhan untuk memberikan masa depan terbaik buatnya.”

Heykal hanya terdiam kaku. Entah hormon apa yang tengah bekerja ditubuhnya saat ini. Yang jelas ia seolah ingin lari dari kenyataan yang ada. Ingin mengingkari nasib yang kini menjadi bagian dari hidupnya. Malah dihatinya terbit kebencian tak beralasan pada Mazaya. Waktupun berlalu. Kini seluruh hidup Mazaya hanya tertumpah untuk Nathan. Karirnya sebagai Account Executive di sebuah perusahaan asing, ditinggalkannya. Kegiatan Mazaya hanya berkutat pada pengobatan dan terapi buat Nathan. Walaupun perkembangan berarti belum juga ditemuinya. Kini Nathan sudah berusia 2 tahun. Tapi ia belum lagi bisa berucap kata-kata dengan artikulasi yang jelas dan bermakna. Kalau anak normal sudah bisa berlari. Nathan baru bisa berjalan dengan merambat ke dinding. Namun Mazaya adalah Ibu yang kuat dan tabah. Ia tetap tersenyum saat kontak mata dengan buah hatinya begitu sulit didapat. Bahkan kelelahan mengurus Nathan dipagi hari tak dirasakannya saat Nathan mengalami insomnia dimalam harinya. Ia tetap menemani Nathan sambil berusaha melakukan interaksi dengan berbagai permainan yang dapat menarik perhatian agar Nathan tidak terus terjerat dalam dunia autisnya.

Sementara Mazaya tenggelam dalam kesibukannya merajut dunia yang seharusnya untuk Nathan. Lain halnya dengan Haykel. Ia sama sekali tak peduli dengan keadaan anaknya. Dulu ia tak pernah pulang lewat jam tujuh malam tapi sekarang, Haykel lebih sering menghabiskan waktunya diluar bersama teman-temannya. Ia memang tidak setegar Mazaya. Terlahir ditengah keluarga bangsawan yang serba berkecukupan membuatnya begitu rapuh dan malu menerima kenyataan yang ada pada Nathan. Tapi Tuhan akan selalu mengirimkan Ibu terbaik pilihanNya pada setiap anak dengan takdir seperti Nathan dan ia akan senantiasa memiliki semangat dan energi berlebih untuk membawanya keluar dari dunia yang melingkupinya saat ini. Dunia dimana hanya ada satu warna, satu bentuk, satu arti dan sulit dimengerti. Dan Mazaya tanpa lelah melobby Tuhan lewat usaha serta doanya dalam menarik buah hatinya dari dunia muram itu.

Mazaya terbelakak tak percaya melihat resep suplemen dan vitamin yang diberikan Dokter Farras. “Sebanyak ini Dok ? Apa bisa Nathan menelan kapsul sebanyak ini dalam sehari ?” “Harus. Kapsul-kapsul itu adalah suplemen dan vitamin untuk membantu tumbuh kembangnya yang lambat”. Mazaya menghela nafas berat. Balita sekecil itu sudah diharus kan akrab dengan segala macam bentuk penyembuhan yang terkadang membuatnya tak nyaman. Terapi dan pengobatan yang dijalani Nathan saat ini sudah merupakan siksaan batin tersendiri buat Mazaya. Kini, ia diharuskan tega untuk memberi kapsul-kapsul suplemen dan vitamin ke mulut kecilnya setiap hari!. Mazaya menghampiri Haykel yang tengah asyik menonton TV.

“Mas, tadi Dokter Farras meresepkan suplemen-suplemen ini untuk Nathan. Ada 25 kapsul yang harus ditelannya setiap hari.” Suara Mazaya merendah demi melihat air muka suaminya yang dingin tanpa reaksi, sementara tatapannya sama sekali tak beranjak dari acara “Candid Camera”.

“Mas, bantu aku yah… Nathan pasti mengamuk kalau dia tahu harus menelan kapsul sebanyak ini”. “Ah ! minta tolong suster dan Mbok Ipah saja. Masa tiga orang tidak cukup. Memangnya dia Hulk” Sahutnya kasar seraya membanting remote control digenggamannya. Mendengar itu amarah Mazaya langsung memuncak. Kesabarannya habis sudah demi melihat tingkah suaminya yang sudah mati rasa dan tak berhati lagi. Pluk! Asbak rokok seberat 1 kg pun mendarat di kening Haykel.

Haykel berdiri dengan amarah yang tak kalah dahsyatnya. Diraihnya tubuh ringkih Mazaya lalu dilemparnya dengan kasar hingga membentur dinding. “Perempuan kotor ! Itu salahmu dan tanggung jawabmu hingga punya anak idiot seperti itu !” umpatnya kasar. Mazaya ingin membalas tapi segera di relai Mbok Ipah.

“Nathan Bu, ingat Nathan” Bujuk wanita tua itu gemetar. “Selama kamu tak bisa menerima keadaan Nathan, lebih baik tinggalkan saja kami” Ujar Mazaya seraya berlalu dengan mata sembab.

Dan keinginan Mazaya ternyata ditanggapi sangat serius oleh Haykel. Surat ceraipun tiba satu bulan setelah kejadian itu. Tak ada pihak yang dapat mendamaikan mereka lagi. Haykel bagai tengah kerasukan setan dari neraka paling dasar, sementara Mazaya tak punya ruang lagi di batinnya untuk kedukaan lain. Nathan, hanya manusia kecil itu yang ada dibenaknya serta serentetan usaha penyelamatan buatnya. Beruntung keluarga Haykel masih mau berbelas kasihan pada Mazaya dan Nathan. Biaya hidup dan pengobatan Nathan sepenuhnya ditanggung oleh Ayah Haykel. Bahkan rumah yang selama ini mereka tempati dihibahkan untuk Mazaya, hanya mobil yang biasa dipakai Nathan untuk berobat dan terapi tak ada lagi, Haykel dengan tega telah menjualnya. Sehingga Mazaya harus berhemat dengan biaya yang ada, karena taxi adalah pilihan kendaraan paling nyaman buat Nathan saat ini. Bahkan dengan berat hati ia pun harus mem PHK Suster Anis karena keterbatasan dana. Kini, hanya sisa Mbok Ipah dengan segala kekurangannya sebagai pengasuh usia setengah abad. “Kita adalah orang tua pilihan Tuhan. Karena kita memiliki nilai lebih di mataNya dibanding orang tua lain pada umumnya. Sehingga ada Nathan dan Qiandra di kehidupan kita” Ujar Linda saat Mazaya berkunjung kerumahnya dan berkeluh kesah tentang nasibnya. “Kamu beruntung Lin. Ayah Qiandra begitu bertanggung jawab dan bisa menerima keadaan anaknya dengan berbesar hati”.

“Sudahlah Mazaya, pasti ada hikmah dibalik semua ini. Toh Nathan juga masih beruntung memiliki Opa dan Oma yang begitu mengasihinya dari pihakmu dan Haykel”. “Mengapa aku harus menikah dengannya” tangis Mazaya menyesali. Linda memeluk tubuh karibnya yang terguncang tangis. “Jangan pernah menyesali yang telah lalu. Ada Nathan dihadapanmu. Pada suatu saat nanti, dialah yang akan memberi makna paling berarti dikehidupanmu. Usahamu untuk penyembuhan Nathan melebih apa yang sudah aku lakukan buat Qiandra. Lihat saja, dia sudah menunjukkan kemajuan yang berarti khan?” Bujuk Linda lembut. Mazaya mencoba menerima segala masukan dan nasehat dari orang -orang yang bersimpati padanya. Yah, memang hanya Nathan satu -satunya sinar hidup yang masih menyala terang dijiwanya. Mazaya yakin, kelak sinar itu pula yang akan membawanya keluar dari kegelapan yang melingkupi hidup mereka saat ini.

Lima tahun pun berlalu. Usia Nathan genap enam tahun, secara klinis kini ia tak lagi menunjukkan ciri-ciri autis, hanya saja cara ia berkomunikasi masih sering memiringkan kepalanya. Tapi kemajuan pesat menuju normal telah dimiliki Nathan. Ia kini sudah bisa bersepeda roda dua. Meniup sendiri balon-balon ulang tahunnya. Padahal saat ia berusia dua tahun, butuh enam bulan lamanya berlatih, baru mulut kecil itu bisa melakukan gerakan meniup. Namun apapun perubahan yang terjadi pada diri Nathan adalah mukjizat terindah yang sangat disyukuri Ibunya.

Kehidupan Mazaya pun merambat naik. Saat Nathan mulai bisa mandiri. Secara perlahan ia pun kembali memasuki kehidupannya yang pernah dilepaskan demi membentuk masa depan bagi buah hatinya. Mazaya kembali bekerja meskipun harus merambah dari dasar. Hingga akhirnya tak ada ketergantungan materi dengan siapapun. Kini ia telah mampu bernafas lega setelah selama lima tahun seolah bernafas dalam lumpur. Mazaya menggenggam erat jemari Nathan. Wajah mungil yang mewarisi ketampanan Heykal dan garis-garis ketegaran wajah Ibunya itu terlihat tegang. Hari ini adalah final “Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional” yang diikutinya.

“Mama, aku takut kalah” ujarnya ragu. Mazaya tersenyum lembut seraya membelai rambut putranya.

“Nathan khan tadi sudah berdoa dan minta sama Tuhan untuk dikasih kemenangan. Jadi, harus yakin bisa menang. Yang penting bacanya nanti yang bagus ya sayang” Sahutnya memberi semangat. Namun tak urung dada Ibu muda itu terasa sesak, ia takut Nathan kalah dan kecewa karena ia bertanding dengan 7 anak normal lainnya yang terseleksi masuk babak final hari ini. Tapi dari kesemua peserta, hanya Nathan lah yang beriwayat autis. Mama,
Aku memang terlahir beda
Kataku sulit dicerna
Wajahku tak bersinar ceria
Aku hidup didunia tanpa warna..

Mama,
Ada jemarimu menyaput warna diduniaku
Ada senyummu memberi bentuk di abstraknya hidupku
Ada senandungmu di senyapnya malamku.

Mama,
Kini duniaku tak lagi gulita
Doa mu melebihi mukjizat yang pernah ada
Kini aku hidup seperti mereka, dapat tertawa, bercanda dan berkarya

Terima kasih Mama,
Telah merajut rapi benang-benang masa depanku
Walau kutahu betapa banyak duka, derita dan air mata telah tertumpah
Peluk, cium serta sujudku, hanya untukmu yang selalu tercinta….

Air mata Mazaya menetes deras, ada letupan-letupan bahagia yang begitu dahysat didadanya. Tepuk tangan riuh terdengar dari seluruh penjuru gedung. Semua juri berdiri memberi penghargaan, mungkin karena mereka tahu Nathan adalah penyandang autis yang berhasil menyamai kepintaran anak normal. Bahkan Mazaya hampir tak percaya pada kalimat-kalimat puisi yang begitu jelas diucapkannya. Secara subyektif, Mazaya yakin anaknya lah yang paling bagus dalam hal penampilan dan pembacaan puisi.

Ternyata apa yang diduga Mazaya benar. Pengumuman pemenangpun dibacakan dan… Juara pertama diraih oleh Muhammad Nathan Ibrahim.

Ibu muda itu serta merta memeluk tubuh Nathan yang tiba-tiba terasa dingin. Senyum ceria terpencar diwajah mungilnya. Senyum yang begitu lama diperjuangkan olehnya.

“Mama, itu kan namaku” ujarnya lugu

“Ia Nak, kamu pemenangnya !

Dengan langkah mantap. Nathan pun melangkah menuju panggung penghargaan. Sama sekali tak terlihat ciri-ciri autis pada dirinya. Mazaya memang telah berhasil membawa buah hatinya keluar dari dunia yang tak pernah di harapkan oleh Ibu manapun di jagat ini. Selama lima tahun berjuang, akhirnya Mazaya berhasil mempersembahkan sebuah dunia bagi Nathan. Dunia yang sebenarnya, dimana ia akan mendapatkan banyak pilihan dalam bercita-cita.

Berita kemenangan Nathan yang diliput beberapa media massa, akhirnya sampai juga pada Haykel. Ada yang tercabik-cabik dihatinya. Haru, sesal dan berjuta perasaan berkecamuk dibatinnya. Nathan terlihat begitu gagah dengan piala ditangannya.

Senyumnya mengembang ceria meliputi kesempurnaan wajah tampannya. Ingin rasanya ia berlari memeluk ‘pria kecil’nya yang pernah dicampakkan dan dianggap tak berguna. Sayangnya Haykel tak pernah mengetahui kekuatan yang dimiliki Mazaya. Ia tak pernah menyadari, begitu banyak mukjizat terlimpah dan tercipta untuk seorang Ibu seperti Mazaya.

Ada keinginan dihatinya untuk kembali memasuki kehidupannya yang dulu. Tapi lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk suatu perubahan. Hidup Haykel kini telah diramaikan oleh Natasha dan Mandira - bayi perempuan mungil berusia satu tahun yang terdiagnosa tuna rungu sejak lahir. Karma Tuhan memang selalu nyata. Dulu Haykel pernah menolak kehadiran Nathan, tapi kemudian takdir kembali mempertemukannya dengan Mandira yang menuntut tanggung jawab dan perhatiannya sebagai orang tua. Ia pun akhirnya tersadar setiap anak adalah kado terindah dari Tuhan, hanya terkadang mereka datang dengan sampul yang berbeda. Adakalanya hadir dengan motif indah menawan Namun tak jarang terbungkus dalam sampul buram tanpa warna.

Tapi apapun bentuknya mereka tidak hadir begitu saja apalagi diluar rencana atau ketidak sengajaan. Keberadaannya, selalu membawa pesan atau pembelajaran tersendiri bagi orang dewasa. Alangkah bahagianya jika seorang anak diberitahu bahwa alasan mereka dilahirkan adalah karena ada rencana besar Tuhan dan kedua orang tua mereka yang selalu mempersiapkan sebentuk masa depan indah dan kasih sayang berlimpah. RIA JUMRIATI
riajumriati.blogspot.com

Rabu, 04 November 2009

Ada balok di mata kita

"Ah..Istriku sudah tuli dokter" keluh seorang suami kepada dokter. "Saya harus bicara berkali-kali padanya, barulah ia mengerti." Sang dokter lantas memberi usul: "Bicaralah dengannya dari jarak sepuluh meter. Jika tak ada respons, coba dari jarak lima meter, lalu dari jarak lima meter, jika masih belum mendengar juga, ya dari jarak satu meter." Usul sang Dokter. Dari situ kita akan tahu tingkat ketuliannya." Si suami mencobanya.Dari jarak sepuluh meter, ia bertanya pada istrinya, " Kamu masak apa malam ini ?" Tak terdengar jawaban. Ia mencoba dari jarak lima meter, bahkan satu meter, tetap saja tak ada respons. Akhirnya ia bicara didekat telinga istrinya, "Masak apa kamu malam ini?" Si Istri menjawab: "Sudah ke-empat kalinya aku ngomong, Sayur asam!!" Rupanya, sang suamilah yang tidak mendengar alias tuli.
Saat kita mengkritik orang lain, kita kerap kali tidak sadar bahwa kitapun memiliki kelemahan yang sama, bahkan mungkin lebih parah. Adakalanya apa yang tidak kita sukai dari orang lain adalah sifat yang tidak kita sukai dari diri sendiri. Kita belum bisa mengatasi satu kebiasaan buruk, kemudian jengkel saat melihat sifat buruk itu muncul dalam diri orang lain, sehingga kita memintanya untuk berubah.
Sah-sah saja, jika kita menilai orang lain secara kritis. Namun bukan wewenang kita untuk menghakimi atau membesar-besarkan kesalahan orang lain dengan mengabaikan kesalahan diri sendiri. Ibaratnya, kita mampu melihat serpihan kayu dimata orang lain, namun balok didalam mata kita sendiri tidak terlihat dengan jelas.
Jika kita memakai standar atau ukuran tinggi dalam menilai orang lain, pastikan dulu bahwa kita sendiri sudah memenuhi standar yang kita buat. Makin tinggi standar yang kita buat bagi sesama, makin tinggi pula standar yang harus kita sendiri penuhi.Yang terbaik adalah intropeksi diri terlebih dahulu sebelum memberi kritik kepada orang lain adalah bijak untuk belajar menghargai sebuah proses terhadap diri sendiri.

Blessing Family Centre

Selasa, 03 November 2009

Lima peraturan sederhana untuk hidup Bahagia

1. Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Bebaskan pikiranmu dari kesusahan.

3. Hiduplah secara sederhana.

4. Berilah lebih.

5. Kurangilah harapan.

Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai baru dari awal.
Setiap orang dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru.

Tuhan tidak menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu, kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai "polisi tidur", ini akan memperlambatmu sedikit tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata. Jangan tinggal terlalu lama saat ada "polisi tidur".

Berjalanlah terus.Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki, terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu yang lebih baik untuk dirimu,

Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah artinya...

Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.

Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada pada orang itu untuk menilai dirimu.

Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas. Dalam kehidupan jarang akan kautemui seseorang yang kaucintai dan orang itu mencintaimu juga.

Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan, ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali.

Lebih baik kehilangan harga dirimu kepada orang yang mencintaimu, daripada kehilangan orang yang kaucintai karena harga dirimu.

Kita terlalu membuang-buang waktu untuk mencari-cari orang yang sesuai untuk dicintai atau melihat kesalahan-kesalahan pada orang yang telah kita cintai, dari pada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita berikan.

Jika kau sungguh-sungguh senang pada seseorang, janganlah kau mencari-cari kekurangannya, kau jangan mencari-cari alasan, kau jangan mencari-cari kesalahannya.

Malahan, kau atasi kesalahan-kesalahan itu, kau terima kekurangan-kekurangan itu dan jangan kau hiraukan alasan-alasan itu

Jangan pernah meninggalkan rekan lama. Kau tidak akan pernah mendapat penggantinya.

Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan tambah baik.
(Semoga menambah wawasan teladan yang baik dalam kehidupan kita ini ya..Amin)

Blessing Family Centre

Minggu, 01 November 2009

15 Pertanyaan Yang Tidak Akan Ditanyakan Tuhan

1. Allah tidak akan bertanya jenis mobil apa yang kendarai Anda, tapi akan bertanya berapa banyak orang yang tidak memiliki kendaraan yang Anda bawa dengan kendaraan Anda.

2. Allah tidak akan bertanya seberapa lebar rumah Anda, tapi akan bertanya berapa banyak orang Anda sambut dirumah Anda.

3. Allah tidak akan bertanya tentang baju bagus di lemari Anda, tapi akan bertanya berapa banyak pakaian yang Anda bagi untuk membantu mereka yang memerlukan pakaian.

4. Allah tidak akan bertanya tentang status sosial, tapi akan menanyakan apakah kehidupan Anda menceritakan siapa Tuhan Anda.

5. Allah tidak akan bertanya berapa banyak harta yang Anda miliki, akan tetapi Tuhan bertanya apakah harta itu mengedalikan hidup Anda.

6. Allah tidak akan menanyakan apakah gaji Anda tinggi, tapi akan bertanya apakah anda kompromikan karakter Anda untuk mendapatkan gaji tinggi..

7. Allah tidak akan menanyakan berapa banyak Anda bekerja lembur, tapi Dia akan bertanya apakah Anda bekerja lembur untuk keluarga dan orang-orang terkasih atau karena workoholik.

8. Allah tidak akan menanyakan berapa banyak promosi yang Anda diterima, tapi akan bertanya apakah cara Anda mendapat promosi menjadi kesaksian bagi orang lain.

9. Allah tidak akan bertanya apa apa jabatan Anda dalam pekerjaan, tapi akan bertanya apakah anda mengerjakan pekerjaan Anda dengan kemampuan terbaik Anda.

10. Allah tidak akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk membantu diri sendiri, tapi akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk membantu orang lain.

11. Allah tidak akan menanyakan berapa banyak teman yang Anda miliki, tapi Dia akan bertanya Anda menjadi teman sejati bagi berapa banyak orang.

12. Allah tidak akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk melindungi hak Anda, tapi akan menanyakan apa yang anda lakukan untuk melindungi hak-hak orang lain.

13. Allah tidak akan menanyakan dilingkungan seperti apa Anda tinggal, tapi Dia akan bertanya bagaimana Anda memperlakukan tetangga di lingkungan Anda tinggal.

14. Allah tidak akan menanyakan warna kulit Anda, tapi akan bertanya tentang karakter Anda.

15. Allah tidak akan bertanya berapa kali apa yang Anda kerjakan sesuai dengan apa yang Anda katakan, tapi akan bertanya berapa kali perbuatan Anda yang tidak sesuai dengan perkataan Anda.

Blessing Family Centre